Baru kali ini lagi, lagu Korea bisa membantu menghayati tokoh cerita.
I Love You A Thousand Times. lirik lagunya itu lho, romantis..
Rabu, 28 Mei 2014
Rabu, 23 Oktober 2013
Dalam Diam....._
Subhanallah, aku mencintainya. Subhanallah aku
menyayanginya. Dari ufuk timur hingga ke barat selalu di hatiku. _Indah Dewi
Pertiwi.
Pernah aku mendoakan anak2, “Allah, Tolong entaskan
mereka dari jalanan dengan caraMu yang indah.”
Beberapa hari, denger kabar ada satpol pp yang tegas
banget dalam menangani orang2 yang berada dijalanan. Mungkinkah caraMu yang
indah itu? Tapi, doaku terputus, dan aku gak denger lagi pak satpol pp yang
tegas itu lagi.
Sama, aku juga mau mendoakan seorang cowok yang Dia tahu
siapa cowok yang aku maksud itu. “Allah, tolong gerakkan hatinya untuk melamar
gadis istimewanya. Beranikan ia, kuatkanlah ia, berilah semangat padanya untuk
memperjuangkan gadis itu. Dan, gerakkan hati gadis itu, untuk menerimanya.
Aamiiin....Ya Rabb.”
Doa ku itu gak boleh terputus, entar kayak doa ku untuk
anak2 yang barusan aku jabarkan.
Ajaibnya, setiap kuberdoa (doa kebaikan) untuk
orang-orang yang aku sayangi di sekitarku, entah untuk anak-anak, orang tua,
ataupun untuk teman... semuanya terkabul, sesuai harapan. Semoga saja doaku
untuk cowok yang hanya Allah Tahu itu bisa dikabulkan oleh Allah juga. Aamiin.
“Tolong gerakkan hatinya untuk melamar gadis istimewanya.
Beranikan ia, kuatkanlah ia, berilah semangat padanya untuk memperjuangkan
gadis itu. Dan, gerakkan hati gadis itu, untuk menerimanya. Aamiiin....Ya Rabb.
Antarkan mereka menuju pelaminan Ya Allah, tanpa perlu ada yang mengotori cinta
mereka, berkahi kehidupan mereka dan hanya mautlah yang bisa memisahkan mereka.”
Di samping itu, aku gak perlu khawatir, karena Allah
sudah menyiapkan seseorang untukku. Dan akan selalu bersama sampai di akherat
nanti. Bersama. “Tapi Allah, jangan pertemukan aku dulu dengan pendamping yang
sudah disiapkan untukku. Aku masih buruk, masih belum pantas.”
Ya, Allah sudah menyiapkan untukku, jika calon pendampingku itu masih lajang,
dihatinya hanya ada satu wanita teristimewa yaitu, ibunya. Bukan wanita lain.
Jika calon pendampingku adalah seorang duda, hanya ada dua wanita teristimewa
di hatinya, yaitu ibunya, dan mantan istrinya (yg sdh meninggal). Bukan wanita
lain. Biar aku gak perlu melepaskan lagi untuk wanita lain. Kabulkan doaku ini,
Ya Allah. Yang jelas, calon pendampingku adalah mahluk Allah yang baik-baik di
mata Allah. Dan menuntunku hingga ke taman surga. Abadi di sana.
Subhanallah, aku mencintainya. Subhanallah, aku
menyayanginya. Dari ufuk timur hingga ke barat selalu di hatiku. Lagu Indah
dewi pertiwi ini akan selalu mengingatkanku terhadapanya. Tak apa. Dan, tak
perlu juga dimiliki. Tak apa. Memang enteng diungkapkan, tapi pada kenyataannya
berat untuk dilepaskan. Sampai-sampai aku harus mencari cara untuk melupakan
dan tak ingin kuhubungi lagi. Hingga akhirnya cara terakhirku adalah melakukan rutinitas
(munajat) kepada Allah yang dulu pernah dibiasakan olehku SEBELUM AKU MENGENAL
COWOK ITU. Ini rahasia antara aku dan Allah apa kebiasaanku itu. Hasilnya???
Ya, meski tak bisa dilupakan namun bagiku rasanya bahagia, karena dengan
melakukan hal yang kusebutkan tadi (munajat) dapat kurasakan aku belum
mengenalinya, seolah-olah aku tak pernah kenal sedikitpun dengannya, cowok yang
hanya Allah yang tahu....cowok itu....cowok yang pernah singgah ke hatiku. Kau
tahu? Diantara banyak cowok yang masuk ke dalam kehidupanku, hanya ia
yang....ehmm...apa ya? Ya begitulah. Meski sakit harus melepaskan untuk wanita
yang ia puja, tapi aku senang dapat pernah mengenalinya. Doaku tidak akan
kuputus. Blog inilah yang menjadi saksi betapa agungnya cintaku padanya.
Mohon ampun Ya Allah, jika selama ini aku mencintai
seseorang melebihi cintaku padaMU. Mohon ampun sebesar-besarnya. Tak ada maksud
menandingiMu. Aku tak mau mencintai seseorang melebihi cintaku PadaMU, makanya
kulepaskan ia dari genggaman penuh khawatirku untuk wanita yang ia cintai.
Beberapa syair yang kuambil dari salah satu video
motivasi tentang cinta, sekaligus menjadi penyemangatku,
Cinta yang Agung
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli
terhadapnya.
Adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia.
MENCINTAI....
Bukanlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana
memaafkan.
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana
kamu mengerti.
Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu
rasakan.
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana
kamu bertahan.
Ketika cinta itu TULUS....meskipun kalah, kita tetap
menang, hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang lebih dari kamu
mencintai dirimu sendiri.
Lihatlah foto-foto ini! Aku masih bisa tersenyum, kan?
Aku menang! Meski beberapa jam sebelumnya aku menangis karena aku rindu yang
tak ingin kusampaikan. Perhatikan mataku! Sembab kan? Itulah bukti, bahwa aku
memiliki cinta yang agung tanpa perlu mengotori cinta.
Tak perlu khawatir bila kurindu padanya, ada make up yang
bisa menutupi wajahku setelah menangis merindu. Tenang, bibir ini masih
berzikir ketika ku rindu padanya agar rinduku yang tak tersampaikan itu bisa dialihkan
menjadi rindu kepada Allah. Jadinya lebih banyak rinduku pada Allah.
Jumat, 27 September 2013
Senin, 29 Juli 2013
Cerpen Dewasa
DI RUANG SEPI
Di Ruang Sepi
Seusai shalat Isya hingga hampir menjelang shubuh, Pak Anggoro seorang
laki-laki berkepala empat masih membelalakkan mata ke layar laptop di ruang
kerja pribadinya. Kalau sudah berkaitan dengan lembur yang mengharuskan
bergulat di ruang kerja pribadinya, maka ia pastinya enggan untuk beranjak dari
tempat. Bagaimana mungkin ia masih merasakan kebetahan dalam suasana ruangan
yang nampak tidak seperti tahun-tahun sebelumnya? Padahal jauh di lubuk
hatinya, ia merasakan kesepian yang terdalam bila memasuki jam lembur di ruang
kerja pribadinya itu.
Mungkin saat ini ia merasakan kenikmatan mengerjakan tugas, tugas
sebagaimana mestinya yang harus ia selesaikan sekaligus menjadi tanggung jawab
atas kariermnya sebagai Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Cirebon, sampai tidak
merasakan kesepian.
Telah lama jari jemarinya menari di atas keyboard hingga tak terasa
jemari tangan kanannya spontan meraih sesuatu di samping kanan laptop.
Tersadarlah ia!
Tak ada apapun di beberapa senti dari samping kanan laptopnya itu,
kecuali mendadak ada rasa kebekuan yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Termasuk
tangan kanannya yang semula ingin mengambil sesuatu, kini menjadi diam, tak
bergerak. Suasana ruangan hening. Seketika rasa kesepian pun ikut hadir dan
menyelinap cepat jauh ke dalam sanubarinya. Tentu saja, kenikmatan mengerjakan
tugas hilang secara tiba-tiba. Ia menghela napas. Perlahan tangan kanannya coba
meraba-raba meja agar kebekuan terpecahkan. Namun, tetap saja ia memaku
kembali, malahan rasa sepi di hati tambah meradang.
Ia tertegun.
Ia merasa wajar pada keadaan yang kini tengah ia rasakan. Rasa sepi dan
rindu tercampur menjadi satu.
Aku sangat merindukanmu, sayangku. Gumamnya dalam hati.
Sudah satu tahun lebih tiga Bulan, ia tidak ditemani oleh sang istri.
Terbayang seperti apa rasa sepi dan rindu selalu merajalela ke hatinya. Sungguh
menyiksa bathin. Apalagi ruang kerja pribadinya itu menyimpan kenangan manis
tersendiri.
Di ruangan itulah, lebih dari cukup dari tanda kesetian serta pengabdian
sang istri padanya benar-benar tak pernah terlupakan, sebelum sang istri
meninggal. Semasa hidup sang istri, ia selalu ada untuknya, menemani pak Anggoro
lembur, setia selalu di sampingnya. Sang istri pula lah selalu setia menjamukan
wedang jahe hangat dan meletakkannya di samping kanan laptop Pak Anggoro.
Wedang jahe buatan istrinya itu tiada duanya di dunia ini, terlebih lagi bila
dicampur madu. Sangat menghangatkan tubuh. Dari jamuan wedang jahe, kadang
terbesit ingin bersikap manja pada sang istri. Misalnya saja, ia bersikap
spontan meraih cepat gelas cangkir ke dalam mulutnya, lalu ia berpura-pura
terkejut merasakan kepanasan.
“Hati-hati dong, Kanda? Wedang jahenya kan, masih panas?” tukas sang
istri sigap melap mulut Pak Anggoro dengan sapu tangan yang telah disediakan di
samping gelas cangkir itu dengan lembut. Jelas-jelas tak ada ceceran air wedang
jahe di mulut Pak Anggoro, malah ia nampaknya ingin memanjakan sang suami.
“Maaf, Dinda? Kanda kira wedang jahenya sudah hangat,” sahut Pak Anggoro,
sikap manjanya berhasil menarik perhatian sang istri.
Panggilan Kanda-Dinda melekat pada diri mereka, diucapnya pun saat tidak
di depan anak-anak.
“Ya, sudah…lain kali hati-hati. Tiup dulu sebelum menyeruput ya, Kanda.”
“Ya.”
Tidak hanya sikap manja pada saat di jamui wedang jahe saja, tapi saat
situasi lain juga. Sebagai contoh, jika ia ingin menggodai sang istri, biasanya
ia berpura-pura mengalami rasa pegal di daerah pundak, lantas jari jemarinya
memijat-mijat bahu sendiri. Cari perhatian, begitu.
“Kenapa, Kanda? Pegal-pegal, ya?” tanya sang istri suatu ketika, “Sini
biar Dinda saja yang pijit.”
“Boleh, yang enak, ya!” sahut Pak Anggoro sambil menarik napas lega
karena berhasil. Baginya, bersama sang istri adalah anugerah tak ternilai. Termasuk
kedekatannya seperti itu.
Sebenarnya Pak Anggoro tak tega kepada sang istri yang selalu menemaninya
lembur di ruang kerja. Biarlah sang istri tidur saja di kamar. Namun, sang
istri bersikukuh ingin ikut menemaninya. Katanya, sebagai kerja sampingan dalam
berumah tangga. Yah, ia tak habis pikir mengapa istrinya mengatakan itu sebuah
kerja sampingan. Apa mau dikata, Pak Anggoro tak punya pilihan lain, selain
menyiakan permintaan sang istri itu. Toh, mengerjakan tugas hingga lembur
begitu, Pak Anggoro menjadi bersemangat, tak mengeluh sedikitpun. Karena di
temani sang istri, pastinya.
Ruang kerja pribadi Pak Anggoro adalah saksi bisu tentang istrinya. Ya
itu dia tadi, kesetiaan dan pengabdiannya pada sang suami yang luar biasa.
Pak Anggoro tak pernah habis untuk berucap syukur pada Ilahi sudah
dikaruniai seorang istri yang begitu mengerti atas tugas-tugas Pak anggoro yang
sering kali diharuskan lembur. Dan ia berani menemani.
Biasanya, setelah menjamukan Pak Anggoro wedang jahe, sang istri menemani
kedua purtinya nonton tv dahulu atau ia sampai menidurkan kedua putrinya yang
sedang beranjak dewasa itu ke kamar mereka masing-masing sebelum kembali ke
ruang kerja sang suami. Jika sudah kedua purtinya tertidur, barulah ia kembali
menemui Pak Anggoro di ruang kerja pribadi. Ia lantas mengambil kursi kemudian
menggeretnya ke samping kursi Pak Anggoro. Nah, selanjutnya yang dilakukan sang
istri yaitu membaca buku. Namun, tak dipungkiri ia pun kadang menulis sebuah
puisi apabila Pak Anggoro sedang menyelesaikan sebuah artikel untuk beberpa surat
kabar, baik surat kabar lokal maupun Nasional. Maklum saja, ia selain seorang
Dosen, ia pula merangkap pekerjaan menjadi freelancer.
Sang istri hanya menemani pak Anggoro dengan cara duduk di samping kursinya.
Atau, biasanya sang istri duduk di sofa, kadang ia tertidur di situ.
Kerap Pak anggoro menangkap pemandangan sedap dilihat. Bahkan, sampai
bercak kekaguman apa yang dilakukan oleh sang istri. Di pojok ruang kerja, tiap
kali sang istri berada di ruangan itu, tiap kali ia sedang menemani Pak Anggoro
lembur. Ia tak pernah lupa untuk melaksanakan shalat sunnah. Pemandangan sedap
dilihat, bukan? Sayang, Pak anggoro tak menjadi imam di kala sang istri sedang
shalat sunnah pada malam hari itu. Hanya memikirkan tugas-tugasnya saja. Akan
tetapi, ia tetap mengimami sang istri dalam melakukan shalat sunnah apabila ia
tak lembur. Terutama, shalat wajib, saat lembur atau tidak ia akan tetap
mengimaminya dan dua buah hatinya.
Kehidupan Pak Anggoro nyaris sempurna dalam mengatur keluarga. Istri yang
setia dan soleha. Serta dua putrinya yang penurut. Ya, meskipun sebenarnya
kesempurnaan hanya ada pada Allah.
Namun, ia rasa kesempurnaan dalam berkeluarga sepertinya setengah telah hilang
dengan kepergian sang istri. Rasanya begitu perih bila harus ditinggalkannya.
Bagi Pak Anggoro, rasa-rasanya ia lah yang merusak kesempurnaan itu. Pasalnya,
ketika ia tak ditemani sang istri pada saat lembur. Ia justru tak mengerti akan
kondisi sang istri yang jelas-jelas tak bisa menemaninya.
Karena terbiasa ditemani pada waktu lembur, karena tak pernah satu pun ia
lembur tanpa ditemani sang istri, ia akan uring-uringan kerja lembur, bahkan
tak bisa lembur tanpa kehadiran sang istri. Dan pada suatu hari, malam yang
sunyi dengan disertai hujan lebat di luar sana. Sang istri belum kunjung pulang
dari rumah orang tuanya (Mertua Pak Anggoro). Kebetulan Pak Anggoro malam itu
banyak tugas, bisa jadi lembur. Karena ia tak pernah lembur tanpa sang istri, lantas
ia menelpon istrinya dan memintanya agar cepat segera pulang ke rumah. Tapi,
sang istri menolak, sebab hujan masih lebat-lebatnya. Malahan, ia meminta pada
Pak Anggoro agar diperbolehkan bermalam di rumah orang tuanya bersama kedua
putrinya. Pak Anggoro tetap bersikukuh meminta istrinya untuk pulang.
“Kan, kalian membawa mobil? Tidak akan kehujanan, bukan?” tandas Pak
Anggoro melalui telpon.
Dan tak lama, Pak Anggoro menarik napas lega mendengar pengakuan sang istri
bahwa ia dan kedua putrinya akan pulang malam itu juga.
Sambil menunggu, Pak Anggoro tetap berada di ruang kerja pribadinya.
Tidak bisa kosentrasi saat mengerjakan tugas-tugas. Apa lantaran tak ada istri
di samping? Yah, ia yakin itu alasannya.
Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba telpon di ruang kerjanya berdering.
Segera ia angkat!
“Assalamualaikum...”
Begitu salam itu terucap dan telah dijawab oleh sang penelpon, ia terdiam
sejenak. Secara Maha dashyat ia merasakan seperti ada petir yang menyambar
dirinya! Ia terhenyak mendengar pernyataan dari penelpon yang menyatakan bahwa
Nyonya Santika mengalami kecelakaan. Istri Pak Anggoro.
“Tidak mungkin!!” sentaknya, tak terasa air mata sudah mengalir deras di
pipi.
“Benar, Pak! Istri bapak kecelakaan. Mobil yang dikendarai istri bapak
bertabrakan dengan bus saat melintas di jalan Brigjen Darsono. Istri beserta
dua putri bapak sekarang berada di Rumah Sakit Pertamina Cirebon.”
“Bagaimana keadaan mereka?”
“Kedua putri bapak baik-baik saja, kemungkinan kondisi mereka baik
dikarenakan mereka duduk di jok belakang mobil.”
“Lalu istri saya?!!”
“Lebih baik bapak kemari saja secepatnya. Terima kasih.”
Bergegaslah Pak Anggoro meninggalkan ruangan setelah menutup telpon yang
ia yakin itu dari pihak rumah sakit.
Dengan terburu-buru dan pakaian seadanya saja yang nampak ada sedikit
tetesan air hujan, ia melangkah terus di lorong Rumah Sakit Pertamina Cirebon.
Tiba-tiba ia disergap rasa takut, takut kehilangan mereka. Sesampainya disuatu
lorong, ia mendapati kedua putrinya sedang menangis saling berpelukan sambil
duduk di sebuah bangku. Langkahnya menjadi pelan, sakit melihat pemandangan
itu. Air matapun mengiringi langkahnya. Sedetik kemudian, ia terlonjak!
“Ada apa ini?!” seru Pak Anggoro pada dirinya sendiri. “Dimana istriku?!!
Lalu kenapa mereka berada di dekat ruangan jenazah? Apa yang terjadi? Apa ada
kaitannnya ruangan jenazah dengan istriku?!” lanjutnya berteriak dalam hati.
Lekas ia percepat langkah.
Setelah di hadapan kedua putrinya, Pak Anggoro dipeluk mereka dan mereka
serentak berkata, “Pa, Mama telah tiada…!!!”
Tubuhnya seakan hancur berkeping-keping. Seketika tangis Pak Anggoro
meledak! Ia merasa ini semua kesalahannya. jika ia tidak meminta istrinya
pulang. Tidak akan ada kejadian seperti itu! Ia sangat menyesal. Penyesalan
yang tidak dimaafkan oleh dirinya sendiri.
*
Pak Anggoro tersadar! Otaknya sudah menerawang jauh ke
belakang. Air mata pun telah membasahi pipi. Cepat-cepat mengangkat sedikit
kacamata titaniumnya itu, lalu mengusapkan air mata dengan tissue. Kemudian ia
kembali membelalakkan mata ke layar laptop. Ada rasa penyesalan di dalam
hatinya yang akan terus ia pendam.
Tak lama, ia kembali serius pada pekerjaannya. Tanpa sengaja, tangan
kanannya spontan lagi meraih ke samping kanan laptop.
Kali ini ia terkesiap! Ada sebuah gelas cangkir di situ. Gegas ia
mendelik, lantas membuka penutup cangkir tersebut. Wedang jahe. Dalam hatinya
terbesit pertanyaan, ‘siapakah yang membuat wedang jahe ini?”
Perlahan ia tengokan ke belakang. Terlihat putri sulungnya berdiri di
belakang kursinya.
“Kakak yang membuatkannya untuk Papa. Diminum ya, Pa. nanti kalau sudah
diminum, kita ke ruang shalat untuk shalat shubuh, sebentar lagi adzan,
sementara si adik sedang mengambil air wudhu. Oya, pa,” sahut putri sulung, ia
terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan, “Kakak kangen sama Mama, Pa. Si adik juga
katanya kangen. Hari ini kita jiarah ke makam Mama ya, Pa.”
Pak Anggoro tersenyum, “Baiklah, kita akan jiarah hari ini. Dan selepas
shalat shubuh jangan beranjak ke mana-mana dulu, ya! Kita akan mendoakan Mama.”
“Ok, deh! Oya, Pa! Mudah-mudahan wedang jahe yang kakak buat sama enaknya
dengan buatan Mama.”
“Sama persis, kok! Terima kasih, ya!”
***
Cerpen ini
dimuat pada tanggal 28 Januari 2012 di KABAR CIREBON
Rabu, 30 November 2011
CERPEN Remaja
Vela Vela
Biasanya, jika ada tugas dari guru untuk mengharuskan pergi ke
perpustakaan, dengan terpaksa aku memasukinya. Padahal, aku sama sekali tidak
menyukai perpustakaan. Lawong, aku anak band, kok? Masa bergulat dengan ruang
perpustakaan? Kurang elit, dong? Menurutku, kurang sepadan denganku, itu saja.
Aku bersama keempat orang temanku sudah membentuk sebuah band, dan aku
bagian gitarisnya. Saat ini, bandku ingin sekali ikut festival, namun kami
belum mendapatkan info ada festival band atau tidaknya. Entahlah! Hanya saja,
aku mendengar rumor bahwa di salah satu surat kabar harian memuat info
seputar festival band. Tetapi, yang menjadi pertanyaanku, surat kabar apa yang
memuat info festival band itu? Kan, banyak surat kabar? Surat kabar lokal dan
surat kabar nasional, yang mana? Ah, daripada pusing-pusing , lebih baik aku
periksa saja surat kabar satu persatu. Toh, nanti juga tahu surat kabar
mana yang memuat info festival band. Inilah bagian yang paling menjengkelkan.
Pasalnya, aku harus memasuki perpustakaan yang jelas-jelas banyak
macam-macam surat kabar se-Indonesia di tempat itu. Menyebalkan.
Jam istirahat begini, seharusnya aku sedang berada di kantin. Tapi karena
alasan tadi, ingin memeriksa semua surat kabar se-Indonesia di perpustakaan
sekolah. Parahnya, keempat orang temanku itu tak ada yang ingin ikut.
Menjengkelkan, bukan? Namun demikian, aku tetap melangkahkan kaki dengan tegap
seperti jalanku yang biasanya, tak pernah terlihat loyo. Lagipula, untuk
apa loyo? Kalau aku berjalan loyo, malu dengan nama yang tercantum di dada seragam
SMAku yeng tertuliskan Adityo Kusuma, nama pemberian dari Ayah untukku.
Langkahku semakin mendekati perpustakaan, hingga akhirnya aku sampai
juga. Aku lantas mencari-cari tempat penyimpanan surat kabar di ruang perpus.
Selang beberapa menit, setelah berhasil menemukan tempat penyimpanannya,
kini di tanganku sudah kudapati beberapa surat kabar yang berbeda-beda, baik
surat kabar lokal maupun nasional. Aku pilih edisi terbaru, tentu saja. Lumayan
cukup banyak surat kabar yang kudapat itu. Dan aku pun, segera mencari tempat
duduk yang sepi.
Setelah kudapatkan tempat duduk yang kanan, kiri, depan dan belakangku
tak ada seseorang, bersegeralah aku membuka satu surat kabar. Perlahan jari
jemariku membuka halaman demi halaman. Baru beberapa halaman, kenapa hatiku terdorong
untuk membaca kolom berita? Dari judul berita yang termuat, benar-benar
menarik. Sayang, rasa gengsiku inilah, enggan untuk membacanya. Jadi
terlewatkan begitu saja. Namun, akhirnya aku membacanya juga saat kubuka surat
kabar yang ketiga. Surat kabar yang kubaca ini, surat kabar lokal dari kotaku
sendiri, Cirebon. Banyak informasi yang kudapat setelah beberapa artikel berita
yang kubaca, ada berita seputar kecelakaan, musibah, perampokan, dan berita
yang sedang in yaitu tentang pengeboman bunuh diri di masjid Adz-Dzikra Mapolresta Cirebon. Luar biasa berita ini, penulisan
artikel beritanya pun tersaji begitu aktual. Namun, tetap saja ada kekurangan
di artikel berita tersebut. Huh, kenapa aku begitu mengritik penulisan artikel
berita? Padahal aku bukan penulis artikel melainkan pengarang lagu yang
kerjaannya menulis lagu. Tapi ya, sudahlah! Tak perlu dipikirkan tentang
penulisan artikel berita. Cukup menjadi pembaca saja.
Benar-benar aku terlena membaca. Parah! Saking
terlenanya hingga aku tak pernah menyadari kapan ada dua cewek duduk di
belakangku. Tahu-tahu mereka sudah duduk membelakangi punggungku, dan aku
sangat mengenali suara mereka. Ya, mereka adalah Vela dan Nina. Setelah aku
amati tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, aku yakin mereka sedang
mengobrolkan sesuatu, membuatku berhenti membaca bahkan untuk mencari info
festival band yang semula menjadi incaranku pun kuhentikan sejenak. Aku mulai
pura-pura membaca, mulailah aku melancarkan aksi menguping.
“Pokoknya aku gak mau punya suami berprofesi
guru, dokter, hakim, jaksa, maupun polisi,” sahut Vela yang terdengar jelas di
telingaku.
Cewek yang satu ini membuatku jatuh hati, aku
naksir berat. Namun ia tak pernah tahu bahwa aku menaruh rasa padanya, sudah
enam bulan lamanya.
“Kenapa?” tanya Nina, pertanyaannya sama percis
seperti isi hatiku.
“Gak pa-pa. Cuma aku gak senang saja,” jawab
Vela. Lalu ia melanjutkan, “Aku mau punya suami yang berprofesi sebagai
pengacara.”
“Hah, pengacara? Kamu yakin? Apa gak takut
suamimu yang pengacara itu dibunuh sama cliennya sendiri? Kan, bisa jadi
clien kecewa, dan gak terima lalu nekat membunuh pengacaranya? Seperti
kasus ayahnya Lina, yang ayahnya berprofesi sebagai pengacara, almarhum ayah
Lina terbunuh oleh cliennya. Kamu gak takut?” terang Nina panjang lebar.
“Ah, kalau begitu ralat, deh! Mendingan, punya
suami pengusaha. Terserah pengusaha apaan, mau pengusaha tempe, tahu, sandal,
yang penting pe-ngu-sa-ha.”
“Bagus mau punya suami pengusaha. Tapi tahu,
gak? Rata-rata pengusaha, apalagi pengusaha besar, pasti beristri lebih dari
satu, lho! Kamu mau hidup berpoligami?” goda Nina.
“Ih, gak deh….kalau berujung poligami! Aku gak
mau dimadu!” sahut Vela bernada sewot.
Aneh mereka itu, masih duduk di kelas XI SMA
sudah membicarakan tentang suami. Boleh-boleh saja berkeinginan punya suami
ini-itu. Tapi mana calonnya? Ah, bodoh amat, yang jelas aku akan tahu seperti
apa kriteria calon suami untuk Vela. Supaya aku tahu dan mendaftar.
“Gimana kalau punya suami artis? Bergelut di
dunia entertainment gitu…?” sergah Nina.
Wah, aku sependapat dengan Nina! Aku kan, calon
artis di negeri ini? ! band yang terbentuk bersama teman-teman akan sukses
besar. Lalu aku sebagai gitaris sekaligus penulis lagu akan manjadi artis juga.
Sudah Vela setuju saja dengan pendapat dari Nina itu.
“Gak, ah! Aku gak mau punya suami artis,” jawab
Vela, sangat menusuk ke telingaku.
“Kenapa?” Nina menanyakan.
Ya ampun! Aku si Adityo Kusuma yang akan
menjadi artis gak akan menceraikanmu. Percayalah Darling, Vela. Huh, aku
semakin geregetan ingin mengucapkan hal itu padanya. Geram aku menguping
seperti ini.
“Lalu kamu maunya punya suami berprofesi apa?”
tanya Nina bernada sedikit menekan dari sebelumnya.
“Ehmm...apa ya? Sebenarnya, dari dulu aku suka
sama cowok yang berprofesi sebagai Reporter. Kalau gitu, aku mau punya suami
reporter saja. Soalnya, dia bagaikan pahlawan dunia yang berani mempertaruhkan
nyawanya hanya untuk meliput berita,” kata Vela, lalu ia melanjutkan, “Nah,
kalau suamiku reporter, setiap pagi, setiap saat, pasti aku akan
diwawancarainya. Seperti misalnya, ‘selamat pagi, istriku? Sudah sarapan
belum?’ pasti gitu! Romantis, kan?”
Reporter? Itukah yang kau inginkan, Vela?
Sungguh, tak bisa kubayangkan jika aku menjadi reporter, lalu bagaimana dengan
gitarku? Entahlah! Kini telingaku tak dapat menguping pembicaraan mereka lagi.
Sudah terlalu menusuk.
Dua menit aku terdiam karena tenggelam dalam
pikiranku sendiri, seketika aku mendengar suara yang lembut namun tulus dari
belakangku. Suara Vela, tentu saja.
“Aku ingin punya suami reporter, Nin.” Vela
bernada datar.
Kalau itu maumu, Vela. Baiklah!
Niatku mencari info festival band, kini
kuurungkan. Segera aku berdiri dan lekas menyimpan kembali semua surat kabar ke
tempat semula. Lalu bergegas melancarkan aksi baruku yaitu mencari buku. Aku
harus menemukan buku yang kuincar sebelum Vela keluar dari perpustakaan ini.
Gegas kumencari buku ke rak satu ke rak yang lain. Dan tak lama mencari,
akhirnya… dapat!
Setelah itu, aku coba menyapu pandangan ke
ruang perpustakaan. Apa yang kulihat? Tak ada Vela di tempat yang sedari tadi
ia duduki bersama Nina! Sial, kemana mereka? Gawat kalau mereka sudah keluar
dari perpustakaan ini, nanti rencanaku gagal. Sejurus kulangkahkan kaki
kembali, secara tiba-tiba aku mendapati mereka di tempat peminjaman buku. Nampak
mereka sedang mengantri dan antrian mereka pun ada di barisan terakhir. Segera
aku menghampiri.
Gugup yang kurasa saat ada di belakang Vela.
Canggung namun aku harus berani mengawali. Jika tidak? Oh, no!
“Ehm… permisi,” sahutku mengawali.
Tertoleh wajah mereka ke arahku. Penuh
keheranan dari raut wajah mereka, tentu saja.
“Bisa bantu aku, gak? Gini, aku belum menjadi
anggota perpustakaan di sekolah ini. Otomatis belum punya kartu anggota. Tapi
aku mau pinjam buku ini. Boleh gak, pinjam buku ini pakai kartu kalian? Pakai
kartu siapa gitu yang mau berkenan?”
“Pakai kartu kamu saja, Nin,” sahut Vela pada
Nina.
“Yah, kalau kartu aku gak tertinggal di rumah,
aku juga pasti pinjam buku kali,” tandas Nina memperlihatkan tangan kosongnya.
“Ehm… gimana, ya?” Vela terbata.
“Ayo, dong?! Please….” Aku memohon.
“Buku yang ingin aku pinjam ini sangat penting. Walaupun besok aku akan
register, belum tentu buku ini masih ada di perputakaan, malah dipinjam sama
orang lain, gimana? Please, mau ya?” lanjutku.
“Boleh, deh! Tapi ingat, ya! Buku yang kamu
pinjam itu jangan sampai rusak, bahkan hilang! Kan, pakai kartuku? Nanti kalau
terjadi sesuatu pada buku yang kamu pinjam itu, aku yang bertanggung jawab,
lho!” seru Vela bernada pelan.
“Sip, deh! Tenang saja, gak akan rusak, hilang
ataupun telat pengembaliannya.”
“Ok!” Vela tersenyum, “Mana buku yang mau kamu
pinjam? Sini biar aku bawa!” lanjutnya.
“Memang buku apa, sih? Yang kamu pinjam itu?”
sergah Nina menjatuhkan pandangannya ke buku yang kuserahkan pada Vela. Kening
Nina seketika mengerut sambil berkata, “Gak salah kamu pinjam buku ini? Aku
kira buku tentang musik? Secara kamu kan, gitaris dari band Mietal? Kok, pilih
buku ‘Kiat Menulis Artikel’? apa ada tugas dari guru?”
“Gak ada. Cuma ada hubungannya dengan
cita-citaku yang ingin menjadi Reporter. Itu saja.” Terangku, sejenak kulirikan
ke arah Vela, hanya sekali lirik. Nampak ia lekas menundukkan kepala setelah
mendengar kata reporter dan lantas membuka buku yang kuserahkan tadi. Kemudian
aku melanjutkan, “Dengan meminjam buku ‘Kiat Menulis Artikel’ semoga bisa
menuntun aku bagaimana menulis artikel berita secara baik dan benar. Menulis
artikel terutama artikel berita menjadi langkah awalku untuk menjadi reporter
sebelum masuk kuliah. Dilatih dari sekarang, begitu.”
“Lantas bagaimana dengan gitarmu? Semua siswa
sekolah ini tahu bahwa kamu hobi main gitar.” Nina menyergahi.
“Hobi main gitar gak akan aku tinggalkan.
Mungkin disuatu hari nanti, aku akan tetap gabung dengan band Mietal. Hanya
saja, aku bekerja di belakang panggung, cukup menulis lagu. Dan aku jamin
dengan berprofesi sebagai reporter, aku masih bisa main gitar. Sebab, kalau aku
sedang bertugas untuk meliput berita musibah ataupun peperangan, lumayan aku
bisa menghibur orang-orang yang ada di barak pengungsian dengan gitarku.”
“Ooo…,” Nina mengangguk paham sambil
mengembungkan kedua pipinya.
“Oya, tadi kamu bilang, besok mau
register, ya? Gimana kalau aku ikut bantu? Nanti aku beritahu persyaratannya
menjadi anggota perpustakaan itu seperti apa?” Vela mengalih pembicaraan.
“Wah, boleh..boleh! mohon bantuannya, ya!”
sergahku pada Vela, kemudian aku berpura-pura berpikir, mungkin akan
menyerempet ke akting, “Bye the way, kamu itu Vela, bukan? Siswa yang
pernah menjuarai karya tulis ilmiah di Bandung itu, kan?” lanjutku.
“Iya, benar.”
“Wah…kamu hebat, ya! Termasuk siswa berprestasi
di sekolah ini.”
“Ah, gak juga. Justru band Mietal lah yang
berpretasi bisa mengharumkan nama sekolah ini.”
Aku mengucek kepala, merasa canggung dipuji.
“Ah, biasa saja, “ jawabku tersenyum malu.
“Oya! Kamu kan, jago menulis karya ilmiah? Bagi-bagi ilmu seputar menulis,
dong? Kayaknya, aku akan kebingungan mencerna kata-kata yang ada di buku yang
ingin kupinjam. Yaaa, itupun kalau kamu mau membantu.” Lanjutku bernada pelan.
“Dengan senang hati, aku akan berbagi. Tapi aku
juga belum begitu jago, lho! Jadi, kita sama-sama belajar. Besok, sesudah aku
membantumu register. Langsung belajar bersama saja, ya!” sahut Vela.
“Ok, makasih ya!” seruku yang mungkin terlihat
sumringah di mata mereka.
“Ekhem! Kayaknya aku gak bisa ikut, tuh! Mau
latihan basket. Sorry, ya!” seru Nina.
Tampaknya Nina mengerti atas maksudku ini pada
Vela. Pendekatan. Syukurlah…! Mudah-mudahan pendekatanku kepada Vela tidak
hanya hari ini, maupun besok. Tetapi juga, seterusnya. Aku harap begitu.
Aku rela bergulat dengan ruang perputakaan ini.
Vela…Vela…..Duniaku teralihkan olehmu.
Dimuat pada tanggal 26
NoV 2011 di KABAR CIREBON
Langganan:
Postingan (Atom)






























