Rabu, 23 Oktober 2013

Dalam Diam....._




Subhanallah, aku mencintainya. Subhanallah aku menyayanginya. Dari ufuk timur hingga ke barat selalu di hatiku. _Indah Dewi Pertiwi.


Pernah aku mendoakan anak2, “Allah, Tolong entaskan mereka dari jalanan dengan caraMu yang indah.”
Beberapa hari, denger kabar ada satpol pp yang tegas banget dalam menangani orang2 yang berada dijalanan. Mungkinkah caraMu yang indah itu? Tapi, doaku terputus, dan aku gak denger lagi pak satpol pp yang tegas itu lagi.


Sama, aku juga mau mendoakan seorang cowok yang Dia tahu siapa cowok yang aku maksud itu. “Allah, tolong gerakkan hatinya untuk melamar gadis istimewanya. Beranikan ia, kuatkanlah ia, berilah semangat padanya untuk memperjuangkan gadis itu. Dan, gerakkan hati gadis itu, untuk menerimanya. Aamiiin....Ya Rabb.”
Doa ku itu gak boleh terputus, entar kayak doa ku untuk anak2 yang barusan aku jabarkan.


Ajaibnya, setiap kuberdoa (doa kebaikan) untuk orang-orang yang aku sayangi di sekitarku, entah untuk anak-anak, orang tua, ataupun untuk teman... semuanya terkabul, sesuai harapan. Semoga saja doaku untuk cowok yang hanya Allah Tahu itu bisa dikabulkan oleh Allah juga. Aamiin.


“Tolong gerakkan hatinya untuk melamar gadis istimewanya. Beranikan ia, kuatkanlah ia, berilah semangat padanya untuk memperjuangkan gadis itu. Dan, gerakkan hati gadis itu, untuk menerimanya. Aamiiin....Ya Rabb. Antarkan mereka menuju pelaminan Ya Allah, tanpa perlu ada yang mengotori cinta mereka, berkahi kehidupan mereka dan hanya mautlah yang bisa memisahkan mereka.”


Di samping itu, aku gak perlu khawatir, karena Allah sudah menyiapkan seseorang untukku. Dan akan selalu bersama sampai di akherat nanti. Bersama. “Tapi Allah, jangan pertemukan aku dulu dengan pendamping yang sudah disiapkan untukku. Aku masih buruk, masih belum pantas.”


Ya, Allah sudah menyiapkan untukku,  jika calon pendampingku itu masih lajang, dihatinya hanya ada satu wanita teristimewa yaitu, ibunya. Bukan wanita lain. Jika calon pendampingku adalah seorang duda, hanya ada dua wanita teristimewa di hatinya, yaitu ibunya, dan mantan istrinya (yg sdh meninggal). Bukan wanita lain. Biar aku gak perlu melepaskan lagi untuk wanita lain. Kabulkan doaku ini, Ya Allah. Yang jelas, calon pendampingku adalah mahluk Allah yang baik-baik di mata Allah. Dan menuntunku hingga ke taman surga. Abadi di sana.


Subhanallah, aku mencintainya. Subhanallah, aku menyayanginya. Dari ufuk timur hingga ke barat selalu di hatiku. Lagu Indah dewi pertiwi ini akan selalu mengingatkanku terhadapanya. Tak apa. Dan, tak perlu juga dimiliki. Tak apa. Memang enteng diungkapkan, tapi pada kenyataannya berat untuk dilepaskan. Sampai-sampai aku harus mencari cara untuk melupakan dan tak ingin kuhubungi lagi. Hingga akhirnya cara terakhirku adalah melakukan rutinitas (munajat) kepada Allah yang dulu pernah dibiasakan olehku SEBELUM AKU MENGENAL COWOK ITU. Ini rahasia antara aku dan Allah apa kebiasaanku itu. Hasilnya??? Ya, meski tak bisa dilupakan namun bagiku rasanya bahagia, karena dengan melakukan hal yang kusebutkan tadi (munajat) dapat kurasakan aku belum mengenalinya, seolah-olah aku tak pernah kenal sedikitpun dengannya, cowok yang hanya Allah yang tahu....cowok itu....cowok yang pernah singgah ke hatiku. Kau tahu? Diantara banyak cowok yang masuk ke dalam kehidupanku, hanya ia yang....ehmm...apa ya? Ya begitulah. Meski sakit harus melepaskan untuk wanita yang ia puja, tapi aku senang dapat pernah mengenalinya. Doaku tidak akan kuputus. Blog inilah yang menjadi saksi betapa agungnya cintaku padanya.


Mohon ampun Ya Allah, jika selama ini aku mencintai seseorang melebihi cintaku padaMU. Mohon ampun sebesar-besarnya. Tak ada maksud menandingiMu. Aku tak mau mencintai seseorang melebihi cintaku PadaMU, makanya kulepaskan ia dari genggaman penuh khawatirku untuk wanita yang ia cintai.


Beberapa syair yang kuambil dari salah satu video motivasi tentang cinta, sekaligus menjadi penyemangatku,

Cinta yang Agung
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya.

Adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia.

MENCINTAI....
Bukanlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana memaafkan.
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti.
Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan.
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu bertahan.

Ketika cinta itu TULUS....meskipun kalah, kita tetap menang, hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri.


Lihatlah foto-foto ini! Aku masih bisa tersenyum, kan? Aku menang! Meski beberapa jam sebelumnya aku menangis karena aku rindu yang tak ingin kusampaikan. Perhatikan mataku! Sembab kan? Itulah bukti, bahwa aku memiliki cinta yang agung tanpa perlu mengotori cinta.
Tak perlu khawatir bila kurindu padanya, ada make up yang bisa menutupi wajahku setelah menangis merindu. Tenang, bibir ini masih berzikir ketika ku rindu padanya agar rinduku yang tak tersampaikan itu bisa dialihkan menjadi rindu kepada Allah. Jadinya lebih banyak rinduku pada Allah.

Jumat, 27 September 2013

Dalam Mihrab Cinta









Di Design : Bulan Ramadhan 1434 H

Senin, 29 Juli 2013

Cerpen Dewasa

DI RUANG SEPI

Di Ruang Sepi

Seusai shalat Isya hingga hampir menjelang shubuh, Pak Anggoro seorang laki-laki berkepala empat masih membelalakkan mata ke layar laptop di ruang kerja pribadinya. Kalau sudah berkaitan dengan lembur yang mengharuskan bergulat di ruang kerja pribadinya, maka ia pastinya enggan untuk beranjak dari tempat. Bagaimana mungkin ia masih merasakan kebetahan dalam suasana ruangan yang nampak tidak seperti tahun-tahun sebelumnya? Padahal jauh di lubuk hatinya, ia merasakan kesepian yang terdalam bila memasuki jam lembur di ruang kerja pribadinya itu.
Mungkin saat ini ia merasakan kenikmatan mengerjakan tugas, tugas sebagaimana mestinya yang harus ia selesaikan sekaligus menjadi tanggung jawab atas kariermnya sebagai Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Cirebon, sampai tidak merasakan kesepian.
Telah lama jari jemarinya menari di atas keyboard hingga tak terasa jemari tangan kanannya spontan meraih sesuatu di samping kanan laptop.
Tersadarlah ia!
Tak ada apapun di beberapa senti dari samping kanan laptopnya itu, kecuali mendadak ada rasa kebekuan yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Termasuk tangan kanannya yang semula ingin mengambil sesuatu, kini menjadi diam, tak bergerak. Suasana ruangan hening. Seketika rasa kesepian pun ikut hadir dan menyelinap cepat jauh ke dalam sanubarinya. Tentu saja, kenikmatan mengerjakan tugas hilang secara tiba-tiba. Ia menghela napas. Perlahan tangan kanannya coba meraba-raba meja agar kebekuan terpecahkan. Namun, tetap saja ia memaku kembali, malahan rasa sepi di hati tambah meradang.
Ia tertegun.
Ia merasa wajar pada keadaan yang kini tengah ia rasakan. Rasa sepi dan rindu tercampur menjadi satu.
Aku sangat merindukanmu, sayangku. Gumamnya dalam hati.
Sudah satu tahun lebih tiga Bulan, ia tidak ditemani oleh sang istri. Terbayang seperti apa rasa sepi dan rindu selalu merajalela ke hatinya. Sungguh menyiksa bathin. Apalagi ruang kerja pribadinya itu menyimpan kenangan manis tersendiri.
Di ruangan itulah, lebih dari cukup dari tanda kesetian serta pengabdian sang istri padanya benar-benar tak pernah terlupakan, sebelum sang istri meninggal. Semasa hidup sang istri, ia selalu ada untuknya, menemani pak Anggoro lembur, setia selalu di sampingnya. Sang istri pula lah selalu setia menjamukan wedang jahe hangat dan meletakkannya di samping kanan laptop Pak Anggoro. Wedang jahe buatan istrinya itu tiada duanya di dunia ini, terlebih lagi bila dicampur madu. Sangat menghangatkan tubuh. Dari jamuan wedang jahe, kadang terbesit ingin bersikap manja pada sang istri. Misalnya saja, ia bersikap spontan meraih cepat gelas cangkir ke dalam mulutnya, lalu ia berpura-pura terkejut merasakan kepanasan.
“Hati-hati dong, Kanda? Wedang jahenya kan, masih panas?” tukas sang istri sigap melap mulut Pak Anggoro dengan sapu tangan yang telah disediakan di samping gelas cangkir itu dengan lembut. Jelas-jelas tak ada ceceran air wedang jahe di mulut Pak Anggoro, malah ia nampaknya ingin memanjakan sang suami.
“Maaf, Dinda? Kanda kira wedang jahenya sudah hangat,” sahut Pak Anggoro, sikap manjanya berhasil menarik perhatian sang istri.
Panggilan Kanda-Dinda melekat pada diri mereka, diucapnya pun saat tidak di depan anak-anak.
“Ya, sudah…lain kali hati-hati. Tiup dulu sebelum menyeruput ya, Kanda.”
“Ya.”
Tidak hanya sikap manja pada saat di jamui wedang jahe saja, tapi saat situasi lain juga. Sebagai contoh, jika ia ingin menggodai sang istri, biasanya ia berpura-pura mengalami rasa pegal di daerah pundak, lantas jari jemarinya memijat-mijat bahu sendiri. Cari perhatian, begitu.
“Kenapa, Kanda? Pegal-pegal, ya?” tanya sang istri suatu ketika, “Sini biar Dinda saja yang pijit.”
“Boleh, yang enak, ya!” sahut Pak Anggoro sambil menarik napas lega karena berhasil. Baginya, bersama sang istri adalah anugerah tak ternilai. Termasuk kedekatannya seperti itu.
Sebenarnya Pak Anggoro tak tega kepada sang istri yang selalu menemaninya lembur di ruang kerja. Biarlah sang istri tidur saja di kamar. Namun, sang istri bersikukuh ingin ikut menemaninya. Katanya, sebagai kerja sampingan dalam berumah tangga. Yah, ia tak habis pikir mengapa istrinya mengatakan itu sebuah kerja sampingan. Apa mau dikata, Pak Anggoro tak punya pilihan lain, selain menyiakan permintaan sang istri itu. Toh, mengerjakan tugas hingga lembur begitu, Pak Anggoro menjadi bersemangat, tak mengeluh sedikitpun. Karena di temani sang istri, pastinya.
Ruang kerja pribadi Pak Anggoro adalah saksi bisu tentang istrinya. Ya itu dia tadi, kesetiaan dan pengabdiannya pada sang suami yang luar biasa.
Pak Anggoro tak pernah habis untuk berucap syukur pada Ilahi sudah dikaruniai seorang istri yang begitu mengerti atas tugas-tugas Pak anggoro yang sering kali diharuskan lembur. Dan ia berani menemani.
Biasanya, setelah menjamukan Pak Anggoro wedang jahe, sang istri menemani kedua purtinya nonton tv dahulu atau ia sampai menidurkan kedua putrinya yang sedang beranjak dewasa itu ke kamar mereka masing-masing sebelum kembali ke ruang kerja sang suami. Jika sudah kedua purtinya tertidur, barulah ia kembali menemui Pak Anggoro di ruang kerja pribadi. Ia lantas mengambil kursi kemudian menggeretnya ke samping kursi Pak Anggoro. Nah, selanjutnya yang dilakukan sang istri yaitu membaca buku. Namun, tak dipungkiri ia pun kadang menulis sebuah puisi apabila Pak Anggoro sedang menyelesaikan sebuah artikel untuk beberpa surat kabar, baik surat kabar lokal maupun Nasional. Maklum saja, ia selain seorang Dosen, ia pula merangkap pekerjaan menjadi freelancer.
Sang istri hanya menemani pak Anggoro dengan cara duduk di samping kursinya. Atau, biasanya sang istri duduk di sofa, kadang ia tertidur di situ.
Kerap Pak anggoro menangkap pemandangan sedap dilihat. Bahkan, sampai bercak kekaguman apa yang dilakukan oleh sang istri. Di pojok ruang kerja, tiap kali sang istri berada di ruangan itu, tiap kali ia sedang menemani Pak Anggoro lembur. Ia tak pernah lupa untuk melaksanakan shalat sunnah. Pemandangan sedap dilihat, bukan? Sayang, Pak anggoro tak menjadi imam di kala sang istri sedang shalat sunnah pada malam hari itu. Hanya memikirkan tugas-tugasnya saja. Akan tetapi, ia tetap mengimami sang istri dalam melakukan shalat sunnah apabila ia tak lembur. Terutama, shalat wajib, saat lembur atau tidak ia akan tetap mengimaminya dan dua buah hatinya.
Kehidupan Pak Anggoro nyaris sempurna dalam mengatur keluarga. Istri yang setia dan soleha. Serta dua putrinya yang penurut. Ya, meskipun sebenarnya kesempurnaan hanya ada pada Allah.
Namun, ia rasa kesempurnaan dalam berkeluarga sepertinya setengah telah hilang dengan kepergian sang istri. Rasanya begitu perih bila harus ditinggalkannya. Bagi Pak Anggoro, rasa-rasanya ia lah yang merusak kesempurnaan itu. Pasalnya, ketika ia tak ditemani sang istri pada saat lembur. Ia justru tak mengerti akan kondisi sang istri yang jelas-jelas tak bisa menemaninya.
Karena terbiasa ditemani pada waktu lembur, karena tak pernah satu pun ia lembur tanpa ditemani sang istri, ia akan uring-uringan kerja lembur, bahkan tak bisa lembur tanpa kehadiran sang istri. Dan pada suatu hari, malam yang sunyi dengan disertai hujan lebat di luar sana. Sang istri belum kunjung pulang dari rumah orang tuanya (Mertua Pak Anggoro). Kebetulan Pak Anggoro malam itu banyak tugas, bisa jadi lembur. Karena ia tak pernah lembur tanpa sang istri, lantas ia menelpon istrinya dan memintanya agar cepat segera pulang ke rumah. Tapi, sang istri menolak, sebab hujan masih lebat-lebatnya. Malahan, ia meminta pada Pak Anggoro agar diperbolehkan bermalam di rumah orang tuanya bersama kedua putrinya. Pak Anggoro tetap bersikukuh meminta istrinya untuk pulang.
“Kan, kalian membawa mobil? Tidak akan kehujanan, bukan?” tandas Pak Anggoro melalui telpon.
Dan tak lama, Pak Anggoro menarik napas lega mendengar pengakuan sang istri bahwa ia dan kedua putrinya akan pulang malam itu juga.
Sambil menunggu, Pak Anggoro tetap berada di ruang kerja pribadinya. Tidak bisa kosentrasi saat mengerjakan tugas-tugas. Apa lantaran tak ada istri di samping? Yah, ia yakin itu alasannya.
Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba telpon di ruang kerjanya berdering. Segera ia angkat!
“Assalamualaikum...”
Begitu salam itu terucap dan telah dijawab oleh sang penelpon, ia terdiam sejenak. Secara Maha dashyat ia merasakan seperti ada petir yang menyambar dirinya! Ia terhenyak mendengar pernyataan dari penelpon yang menyatakan bahwa Nyonya Santika mengalami kecelakaan. Istri Pak Anggoro.
“Tidak mungkin!!” sentaknya, tak terasa air mata sudah mengalir deras di pipi.
“Benar, Pak! Istri bapak kecelakaan. Mobil yang dikendarai istri bapak bertabrakan dengan bus saat melintas di jalan Brigjen Darsono. Istri beserta dua putri bapak sekarang berada di Rumah Sakit Pertamina Cirebon.”
“Bagaimana keadaan mereka?”
“Kedua putri bapak baik-baik saja, kemungkinan kondisi mereka baik dikarenakan mereka duduk di jok belakang mobil.”
“Lalu istri saya?!!”
“Lebih baik bapak kemari saja secepatnya. Terima kasih.”
Bergegaslah Pak Anggoro meninggalkan ruangan setelah menutup telpon yang ia yakin itu dari pihak rumah sakit.
Dengan terburu-buru dan pakaian seadanya saja yang nampak ada sedikit tetesan air hujan, ia melangkah terus di lorong Rumah Sakit Pertamina Cirebon. Tiba-tiba ia disergap rasa takut, takut kehilangan mereka. Sesampainya disuatu lorong, ia mendapati kedua putrinya sedang menangis saling berpelukan sambil duduk di sebuah bangku. Langkahnya menjadi pelan, sakit melihat pemandangan itu. Air matapun mengiringi langkahnya. Sedetik kemudian, ia terlonjak!
“Ada apa ini?!” seru Pak Anggoro pada dirinya sendiri. “Dimana istriku?!! Lalu kenapa mereka berada di dekat ruangan jenazah? Apa yang terjadi? Apa ada kaitannnya ruangan jenazah dengan istriku?!” lanjutnya berteriak dalam hati. Lekas ia percepat langkah.
Setelah di hadapan kedua putrinya, Pak Anggoro dipeluk mereka dan mereka serentak berkata, “Pa, Mama telah tiada…!!!”
Tubuhnya seakan hancur berkeping-keping. Seketika tangis Pak Anggoro meledak! Ia merasa ini semua kesalahannya. jika ia tidak meminta istrinya pulang. Tidak akan ada kejadian seperti itu! Ia sangat menyesal. Penyesalan yang tidak dimaafkan oleh dirinya sendiri.
*
Pak Anggoro tersadar! Otaknya sudah menerawang jauh ke belakang. Air mata pun telah membasahi pipi. Cepat-cepat mengangkat sedikit kacamata titaniumnya itu, lalu mengusapkan air mata dengan tissue. Kemudian ia kembali membelalakkan mata ke layar laptop. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya yang akan terus ia pendam.
Tak lama, ia kembali serius pada pekerjaannya. Tanpa sengaja, tangan kanannya spontan lagi meraih ke samping kanan laptop.
Kali ini ia terkesiap! Ada sebuah gelas cangkir di situ. Gegas ia mendelik, lantas membuka penutup cangkir tersebut. Wedang jahe. Dalam hatinya terbesit pertanyaan, ‘siapakah yang membuat wedang jahe ini?”
Perlahan ia tengokan ke belakang. Terlihat putri sulungnya berdiri di belakang kursinya.
“Kakak yang membuatkannya untuk Papa. Diminum ya, Pa. nanti kalau sudah diminum, kita ke ruang shalat untuk shalat shubuh, sebentar lagi adzan, sementara si adik sedang mengambil air wudhu. Oya, pa,” sahut putri sulung, ia terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan, “Kakak kangen sama Mama, Pa. Si adik juga katanya kangen. Hari ini kita jiarah ke makam Mama ya, Pa.”
Pak Anggoro tersenyum, “Baiklah, kita akan jiarah hari ini. Dan selepas shalat shubuh jangan beranjak ke mana-mana dulu, ya! Kita akan mendoakan Mama.”
“Ok, deh! Oya, Pa! Mudah-mudahan wedang jahe yang kakak buat sama enaknya dengan buatan Mama.”
“Sama persis, kok! Terima kasih, ya!”
***

Cerpen ini dimuat pada tanggal 28 Januari 2012 di KABAR CIREBON

Rabu, 30 November 2011

CERPEN Remaja



Vela Vela
Biasanya, jika ada tugas dari guru untuk mengharuskan pergi ke perpustakaan, dengan terpaksa aku memasukinya. Padahal, aku sama sekali tidak menyukai perpustakaan. Lawong, aku anak band, kok? Masa bergulat dengan ruang perpustakaan? Kurang elit, dong? Menurutku, kurang sepadan denganku, itu saja.
Aku bersama keempat orang temanku sudah membentuk sebuah band, dan aku bagian gitarisnya. Saat ini, bandku ingin sekali ikut festival, namun kami belum mendapatkan info ada festival band atau tidaknya. Entahlah! Hanya saja, aku mendengar rumor  bahwa di salah satu surat kabar harian memuat info seputar festival band. Tetapi, yang menjadi pertanyaanku, surat kabar apa yang memuat info festival band itu? Kan, banyak surat kabar? Surat kabar lokal dan surat kabar nasional, yang mana? Ah, daripada pusing-pusing , lebih baik aku periksa saja surat kabar satu persatu. Toh, nanti juga tahu surat kabar mana yang memuat info festival band. Inilah bagian yang paling menjengkelkan. Pasalnya, aku harus  memasuki perpustakaan yang jelas-jelas banyak macam-macam surat kabar se-Indonesia di tempat itu. Menyebalkan.
Jam istirahat begini, seharusnya aku sedang berada di kantin. Tapi karena alasan tadi, ingin memeriksa semua surat kabar se-Indonesia di perpustakaan sekolah. Parahnya, keempat orang temanku itu tak ada yang ingin ikut. Menjengkelkan, bukan? Namun demikian, aku tetap melangkahkan kaki dengan tegap seperti  jalanku yang biasanya, tak pernah terlihat loyo. Lagipula, untuk apa loyo? Kalau aku berjalan loyo, malu dengan nama yang tercantum di dada seragam SMAku yeng tertuliskan Adityo Kusuma, nama pemberian dari Ayah untukku.
Langkahku semakin mendekati perpustakaan, hingga akhirnya aku sampai juga. Aku lantas mencari-cari tempat penyimpanan surat kabar di ruang perpus.
Selang beberapa menit, setelah berhasil menemukan tempat penyimpanannya, kini di tanganku sudah kudapati beberapa surat kabar yang berbeda-beda, baik surat kabar lokal maupun nasional. Aku pilih edisi terbaru, tentu saja. Lumayan cukup banyak surat kabar yang kudapat itu. Dan aku pun, segera mencari tempat duduk yang sepi.
Setelah kudapatkan tempat duduk yang kanan, kiri, depan dan belakangku tak ada seseorang, bersegeralah aku membuka satu surat kabar. Perlahan jari jemariku membuka halaman demi halaman. Baru beberapa halaman, kenapa hatiku terdorong untuk membaca kolom berita? Dari judul berita yang termuat, benar-benar menarik. Sayang, rasa gengsiku inilah, enggan untuk membacanya. Jadi terlewatkan begitu saja. Namun, akhirnya aku membacanya juga saat kubuka surat kabar yang ketiga. Surat kabar yang kubaca ini, surat kabar lokal dari kotaku sendiri, Cirebon. Banyak informasi yang kudapat setelah beberapa artikel berita yang kubaca, ada berita seputar kecelakaan, musibah, perampokan, dan berita yang sedang in yaitu tentang pengeboman bunuh diri di masjid Adz-Dzikra Mapolresta Cirebon. Luar biasa berita ini, penulisan artikel beritanya pun tersaji begitu aktual. Namun, tetap saja ada kekurangan di artikel berita tersebut. Huh, kenapa aku begitu mengritik penulisan artikel berita? Padahal aku bukan penulis artikel melainkan pengarang lagu yang kerjaannya menulis lagu. Tapi ya, sudahlah! Tak perlu dipikirkan tentang penulisan artikel berita. Cukup menjadi pembaca saja.
Benar-benar aku terlena membaca. Parah! Saking terlenanya hingga aku tak pernah menyadari kapan ada dua cewek duduk di belakangku. Tahu-tahu mereka sudah duduk membelakangi punggungku, dan aku sangat mengenali suara mereka. Ya, mereka adalah Vela dan Nina. Setelah aku amati tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, aku yakin mereka sedang mengobrolkan sesuatu, membuatku berhenti membaca bahkan untuk mencari info festival band yang semula menjadi incaranku pun kuhentikan sejenak. Aku mulai pura-pura membaca, mulailah aku melancarkan aksi menguping.
“Pokoknya aku gak mau punya suami berprofesi guru, dokter, hakim, jaksa, maupun polisi,” sahut Vela yang terdengar jelas di telingaku.
Cewek yang satu ini membuatku jatuh hati, aku naksir berat. Namun ia tak pernah tahu bahwa aku menaruh rasa padanya, sudah enam bulan lamanya.
“Kenapa?” tanya Nina, pertanyaannya sama percis seperti isi hatiku.
“Gak pa-pa. Cuma aku gak senang saja,” jawab Vela. Lalu ia melanjutkan, “Aku mau punya suami yang berprofesi sebagai pengacara.”
“Hah, pengacara? Kamu yakin? Apa gak takut suamimu yang pengacara itu dibunuh sama cliennya sendiri? Kan, bisa jadi clien kecewa, dan gak terima lalu nekat membunuh pengacaranya? Seperti kasus ayahnya Lina, yang ayahnya berprofesi sebagai pengacara, almarhum ayah Lina terbunuh oleh cliennya. Kamu gak takut?” terang Nina panjang lebar.
“Ah, kalau begitu ralat, deh! Mendingan, punya suami pengusaha. Terserah pengusaha apaan, mau pengusaha tempe, tahu, sandal, yang penting pe-ngu-sa-ha.”
“Bagus mau punya suami pengusaha. Tapi tahu, gak? Rata-rata pengusaha, apalagi pengusaha besar, pasti beristri lebih dari satu, lho! Kamu mau hidup berpoligami?” goda Nina.
“Ih, gak deh….kalau berujung poligami! Aku gak mau dimadu!” sahut Vela bernada sewot.
Aneh mereka itu, masih duduk di kelas XI SMA sudah membicarakan tentang suami. Boleh-boleh saja berkeinginan punya suami ini-itu. Tapi mana calonnya? Ah, bodoh amat, yang jelas aku akan tahu seperti apa kriteria calon suami untuk Vela. Supaya aku tahu dan mendaftar.
“Gimana kalau punya suami artis? Bergelut di dunia entertainment gitu…?” sergah Nina.
Wah, aku sependapat dengan Nina! Aku kan, calon artis di negeri ini? ! band yang terbentuk bersama teman-teman akan sukses besar. Lalu aku sebagai gitaris sekaligus penulis lagu akan manjadi artis juga. Sudah Vela setuju saja dengan pendapat dari Nina itu.
“Gak, ah! Aku gak mau punya suami artis,” jawab Vela, sangat menusuk ke telingaku.
“Kenapa?” Nina menanyakan.
Ya ampun! Aku si Adityo Kusuma yang akan menjadi artis gak akan menceraikanmu. Percayalah Darling, Vela. Huh, aku semakin geregetan ingin mengucapkan hal itu padanya. Geram aku menguping seperti ini.
“Lalu kamu maunya punya suami berprofesi apa?” tanya Nina bernada sedikit menekan dari sebelumnya.
“Ehmm...apa ya? Sebenarnya, dari dulu aku suka sama cowok yang berprofesi sebagai Reporter. Kalau gitu, aku mau punya suami reporter saja. Soalnya, dia bagaikan pahlawan dunia yang berani mempertaruhkan nyawanya hanya untuk meliput berita,” kata Vela, lalu ia melanjutkan, “Nah, kalau suamiku reporter, setiap pagi, setiap saat, pasti aku akan diwawancarainya. Seperti misalnya, ‘selamat pagi, istriku? Sudah sarapan belum?’ pasti gitu! Romantis, kan?”
Reporter? Itukah yang kau inginkan, Vela? Sungguh, tak bisa kubayangkan jika aku menjadi reporter, lalu bagaimana dengan gitarku? Entahlah! Kini telingaku tak dapat menguping pembicaraan mereka lagi. Sudah terlalu menusuk.
Dua menit aku terdiam karena tenggelam dalam pikiranku sendiri, seketika aku mendengar suara yang lembut namun tulus dari belakangku. Suara Vela, tentu saja.
“Aku ingin punya suami reporter, Nin.” Vela bernada datar.
Kalau itu maumu, Vela. Baiklah!
Niatku mencari info festival band, kini kuurungkan. Segera aku berdiri dan lekas menyimpan kembali semua surat kabar ke tempat semula. Lalu bergegas melancarkan aksi baruku yaitu mencari buku. Aku harus menemukan buku yang kuincar sebelum Vela keluar dari perpustakaan ini. Gegas kumencari buku ke rak satu ke rak yang lain. Dan tak lama mencari, akhirnya… dapat!
Setelah itu, aku coba menyapu pandangan ke ruang perpustakaan. Apa yang kulihat? Tak ada Vela di tempat yang sedari tadi ia duduki bersama Nina! Sial, kemana mereka? Gawat kalau mereka sudah keluar dari perpustakaan ini, nanti rencanaku gagal. Sejurus kulangkahkan kaki kembali, secara tiba-tiba aku mendapati mereka di tempat peminjaman buku. Nampak mereka sedang mengantri dan antrian mereka pun ada di barisan terakhir. Segera aku menghampiri.
Gugup yang kurasa saat ada di belakang Vela. Canggung namun aku harus berani mengawali. Jika tidak? Oh, no!
“Ehm… permisi,” sahutku mengawali.
Tertoleh wajah mereka ke arahku. Penuh keheranan dari raut wajah mereka, tentu saja.
“Bisa bantu aku, gak? Gini, aku belum menjadi anggota perpustakaan di sekolah ini. Otomatis belum punya kartu anggota. Tapi aku mau pinjam buku ini. Boleh gak, pinjam buku ini pakai kartu kalian? Pakai kartu siapa gitu yang mau berkenan?”
“Pakai kartu kamu saja, Nin,” sahut Vela pada Nina.
“Yah, kalau kartu aku gak tertinggal di rumah, aku juga pasti pinjam buku kali,” tandas Nina memperlihatkan tangan kosongnya.
“Ehm… gimana, ya?” Vela terbata.
“Ayo, dong?! Please….” Aku memohon. “Buku yang ingin aku pinjam ini sangat penting. Walaupun besok aku akan register, belum tentu buku ini masih ada di perputakaan, malah dipinjam sama orang lain, gimana? Please, mau ya?” lanjutku.
“Boleh, deh! Tapi ingat, ya! Buku yang kamu pinjam itu jangan sampai rusak, bahkan hilang! Kan, pakai kartuku? Nanti kalau terjadi sesuatu pada buku yang kamu pinjam itu, aku yang bertanggung jawab, lho!” seru Vela bernada pelan.
“Sip, deh! Tenang saja, gak akan rusak, hilang ataupun telat pengembaliannya.”
“Ok!” Vela tersenyum, “Mana buku yang mau kamu pinjam? Sini biar aku bawa!” lanjutnya.
“Memang buku apa, sih? Yang kamu pinjam itu?” sergah Nina menjatuhkan pandangannya ke buku yang kuserahkan pada Vela. Kening Nina seketika mengerut sambil berkata, “Gak salah kamu pinjam buku ini? Aku kira buku tentang musik? Secara kamu kan, gitaris dari band Mietal? Kok, pilih buku ‘Kiat Menulis Artikel’? apa ada tugas dari guru?”
“Gak ada. Cuma ada hubungannya dengan cita-citaku yang ingin menjadi Reporter. Itu saja.” Terangku, sejenak kulirikan ke arah Vela, hanya sekali lirik. Nampak ia lekas menundukkan kepala setelah mendengar kata reporter dan lantas membuka buku yang kuserahkan tadi. Kemudian aku melanjutkan, “Dengan meminjam buku ‘Kiat Menulis Artikel’ semoga bisa menuntun aku bagaimana menulis artikel berita secara baik dan benar. Menulis artikel terutama artikel berita menjadi langkah awalku untuk menjadi reporter sebelum masuk kuliah. Dilatih dari sekarang, begitu.”
“Lantas bagaimana dengan gitarmu? Semua siswa sekolah ini tahu bahwa kamu hobi main gitar.” Nina menyergahi.
“Hobi main gitar gak akan aku tinggalkan. Mungkin disuatu hari nanti, aku akan tetap gabung dengan band Mietal. Hanya saja, aku bekerja di belakang panggung, cukup menulis lagu. Dan aku jamin dengan berprofesi sebagai reporter, aku masih bisa main gitar. Sebab, kalau aku sedang bertugas untuk meliput berita musibah ataupun peperangan, lumayan aku bisa menghibur orang-orang yang ada di barak pengungsian dengan gitarku.”
“Ooo…,” Nina mengangguk paham sambil mengembungkan kedua pipinya.
“Oya,  tadi kamu bilang, besok mau register, ya? Gimana kalau aku ikut bantu? Nanti aku beritahu persyaratannya menjadi anggota perpustakaan itu seperti apa?” Vela mengalih pembicaraan.  
“Wah, boleh..boleh! mohon bantuannya, ya!” sergahku pada Vela, kemudian aku berpura-pura berpikir, mungkin akan menyerempet ke akting, “Bye the way, kamu itu Vela, bukan? Siswa yang pernah menjuarai karya tulis ilmiah di Bandung itu, kan?” lanjutku.
“Iya, benar.”
“Wah…kamu hebat, ya! Termasuk siswa berprestasi di sekolah ini.”
“Ah, gak juga. Justru band Mietal lah yang berpretasi bisa mengharumkan nama sekolah ini.”
Aku mengucek kepala, merasa canggung dipuji.
“Ah, biasa saja, “ jawabku tersenyum malu. “Oya! Kamu kan, jago menulis karya ilmiah? Bagi-bagi ilmu seputar menulis, dong? Kayaknya, aku akan kebingungan mencerna kata-kata yang ada di buku yang ingin kupinjam. Yaaa, itupun kalau kamu mau membantu.” Lanjutku bernada pelan.
“Dengan senang hati, aku akan berbagi. Tapi aku juga belum begitu jago, lho! Jadi, kita sama-sama belajar. Besok, sesudah aku membantumu register. Langsung belajar bersama saja, ya!” sahut Vela.
“Ok, makasih ya!” seruku yang mungkin terlihat sumringah di mata mereka.
“Ekhem! Kayaknya aku gak bisa ikut, tuh! Mau latihan basket. Sorry, ya!” seru Nina.
Tampaknya Nina mengerti atas maksudku ini pada Vela. Pendekatan. Syukurlah…! Mudah-mudahan pendekatanku kepada Vela tidak hanya hari ini, maupun besok. Tetapi juga, seterusnya. Aku harap begitu.
Aku rela bergulat dengan ruang perputakaan ini. Vela…Vela…..Duniaku teralihkan olehmu.
Dimuat pada tanggal 26 NoV 2011 di KABAR CIREBON