Sabtu, 08 Januari 2011

Aku hanya ingin berbagi : UNGKAPAN HATI LEWAT PUISI # 2010

Terasa
Terasa begitu aneh
Walau sudah terbiasa
Begitu asing rasanya
Jika terus begini
Aku harus bagaimana?

Terasa berada di ruang hampa
Jika sudah begini

Sebenarnya aku menerima perlakuan ini
Hingga tergores luka dan sakit
Aku tak menolak sedikit pun…sungguh
Namun relung hati ini terasa mengeluh
Kenapa harus begini?

Terasa diriku terikat
Terasa bathin ini tertusuk duri
Terasa darah ini membeku
Terasa diriku ini bagai patung
Yang tak ada gairah
Air pun tak ingin lagi menetes
Karena sudah terasa pilu..lebih dari itu

Terasa tak ada pintu masuk ke dalam hatiku
Hati ini sudah tertutup rapat
Terasa menjengkelkan jika sudah begini
Terasa sulit pula untuk membukanya kembali
Lebih baik seperti ini, menutup diri…akan jauh lebih baik
Inilah duniaku sebenarnya ….selalu terasa sendiri
Karya : Yan Yuliani
_ 27 Des 2010


Tak Ingin Lagi
Aku tak ingin merengek lagi
Cukup sampai  disini
Akan kuakhiri semuanya
Dengan kepasrahan yang menggrogoti kekuatanku

Tak ingin mengeluh lagi
Tapi ingin perbaiki kepingan hati
Yang kini hancur berantakan

Tak ingin mengemis perhatian lagi
Karena kutahu, aku butuh diam
Cukup diam membisu
Biar jadi tanya

Mestinya aku takut ada yang hilang
Namun aku siap kehilangan
Jika itu memang pilihan

Karya : Yan Yuliani
_ lupa tanggal Desember 2010



Aku Mampu

Meski suasana sunyi
Meski diriku sepi
Meski sendiri dalam gelap
Meski berjalan tak ditemani
Meski kehidupan kelabu
Aku masih bisa bertahan
Dan mampu begini

Meski tak ada warna pelangi di hati
Meski aku tersingkirkan
Meski keadaannya sulit dan terjepit
Meski bathin ini meradang
Meski berat kulangkahkan kaki
Meski sulit berpijak
Aku akan tetap seperti ini
Tetap bertahan

Walaupun tersiksa bathin ini
Walaupun ada yang menarik ulur hatiku
Tapi aku masih berdiri tegak
Karena kumampu menyembunyikannya,
Dalam realita kehidupan dan di kehidupan semu

Tak ada warna hari
Tak ada senyum di jiwa
Tak ad pula penyegarannya
Aku tetap bagini, mampu menanganinya

Meski tak ada pelipur lara
Aku tak akan lari
Walaupun disatu sisi, ada lara
Tak jadi masalah bagiku
Aku akan berusaha untuk tetap mampu

Terkadang aku ingin menyerah
Terkadang aku ingin mundur
Terkadang aku ingin pasrah
Terkadang juga ingin menghilang
Namun aku tahu, itu bodoh

Maski terkesan ego
Tapi lihatlah diriku
Pastilah akan ternyuh

Walaupun terkadang tak ada harapan
Akan kutunjukkan selalu kekuatanku
Bukan kelemahan

Aku akan tetap begini
Selalu mencoba untuk bertahan
Meski kujalani sendiri
Berat…berat yang luar biasa
Sakit…sakit yang kurasa
Akan kusimpan dalam hati
Karena kumampu begini
Buktikan saja!

Karya : Yan Yuliani
_ 7 Desember 2010

 

Dua Gadis
Dua gadis itu menatapku kosong
Entah itu pilu, sedih, atau perih?
Yang  jelas mata mereka telah lembab
Hingga akhirnya meneteskan air mata

Begitu mengiris hati
Saat mereka meneteskannya
Kami pun terdiam

Dan lebih mengiris hati lagi
Ketika mereka terlontar satu Tanya
Cukup ‘mengapa?’
Mengiris…begitu teririsnya diri ini oleh pertanyaan itu

Tak perlu kujawab
Karena tak ada jawabnya

Karya : Yan Yuliani
_ 4 Desember 2010
Untuk Nania ( si ganteng), Haryati (AnakE mimi)



Kau setia berikanku senyum
Pertama kali kau jumpai diriku
Kau berikanku senyum
Kutanya namamu, kau menjawabnya dengan senyum

Kedua kali, kita saling bertemu
Kau tetap berikanku senyum
Meski sebenarnya, aku lupa siapa namamu

Sekian kali kita bertemu
Kau senantiasa berikanku senyum
Dalam hangatnya keakraban
Yang begitu indah bagiku

Dan terakhir kali, saat kita ditemui penutupan
Kau tak pernah pudar berikanku senyum
Meski sebenarnya, kau kehilanganku
Begitu juga aku yang kehilanganmu
Dan senyummu

Aku tak tahu,
Apa aku bisa menyimpan senyummu di benakku?
Aku tak pernah tahu

Teruslah setia berikanku senyum
Jika kita bertemu lagi di hari esok
Entah kapan!

Karya : Yan Yuliani
_ 3 desember 2010

Buat => Mimi Dewi


Kesendirian
Tak bisa mengelak
Bahwa aku butuh seraut wajah
Agar bisa menepis kesendirianku
Kesendirian yang kini kurasa

Ingin rasanya keluar dari kesendirian ini
Namun tak ada seraut wajah menghampiri
Sulit dan sulit

Tuhan, adakah seraut wajah untukku?
Aku tak mau lagi menunduk terpekur
Yang berharap akan ada seorang
Datang menghampiri dan mengangkat daguku
Aku tak mua lagi, Tuhan!

Kucoba daguku terangkat sendiri
Menatap ke depan tapi tak ada apapun
Yang ada hanyalah air mata bathinku jatuh
Karena menangisi kesendirianku

Bukannya aku ingin menyendiri!
Bukan! Lagipula aku tak mau itu!
Walaupun aku terbiasa dengan kesendirian
Namun kenyataannya hatiku menolak keras
Dan betapa pedih hati ini
Bila meratapi kesendirianku
Membuat kekosongan di hati

Karya : Yan Yuliani
_ 2 Desember 2010


Rasa Sepiku
Memang benar, sepi teman setiaku
Sahabat hidup gelapku
Tak bisa kuhindari
Jika memang sepi itu labirin hati

Munafik, jika ada orang mengusir sepiku
Karena sepi tak akan mati

Meski terbayang ramai, terang, ceria, mempesona
Tapi tetap saja, sepi mendera
Sepi menyelimuti hidupku
Apa boleh buat?
Sepi bagian hidupku ini
Tak ada seorang pun yang tahu
Bahwa diriku….merasa sepi
Teramat sangat sepi

Kini yang bisa kulakukan
Hanya menikmati dan bermain dengan sepi
Menerawang jauh entah kemana
Di dalam keharuan

Jangan sentuh rasa sepiku ini
Bagaimana pun, dialah yang selalu ada untukku

Karya : Yan Yuliani
_ 27 November 2010


Biarkanku menangis

Kali ini saja, biarkan aku menangis
Mengeluarkan semua keterkejutanku
Saat kau jatuhkan butiran mutiara
Bening dan hening
Sesaat namun terasa pahit
Kau menangisiku diujung kisah
Sungguh aku terkejut
Tak pernah kau seperti ini
Menangisiku

Pertama kali kudapati butiran mutiara
Jatuh tanpa terasa
Hingga kuusapkan saja olehku
Kau tak menepis
Membiarkanku terus mengusap
Dan hanyut dalam kesedihan

Karya : Yan Yuliani
_ 23 November 2010
Untuk meredil, tmanQ


Lilin Padamku

Apa karena aku? Atau situasi?
Yang membuatmu begini? Berubah tanpa sebab
Haruskah kurelakan seperti ini?
Tentu saja, tak-a-kan-per-nah
Selamanya, kuingin kau tetap ada
Hanya itu permintaanku

Dirimu bagaikan lilin padamku
Memadamkan semua perasaan
Bathinku tahu perasaanmu dulu dan kini
Sayang, malas kuutarakan
Mungkin karena harga diri

Penatku timbul dikala kau tak ada
Jangan pergi! Aku hanya ingin ditemani
Itu saja

Tak pernah kurasakan dan dirasa
Tentang lilin padamku ini
Terenyuh dalam kesendirian

Di saat kau menjadi lilin terangku
Sedikitpun tak pernah abaikanku
Bisakah lakukan itu lagi?
Tak-a-kan-mung-kin-bi-sa
Karena kau sudah menjadi lilin padamku
Sulit untuk menyala kembali

Karya : Yan Yuliani
_ 9 november 2010


Biar sajalah

Aku selalu terbangun, meski sebenarnya rapuh
Biar sajalah
Tak pernah kutunjukkan kalutku
Sering pula menyembunyikan perihku
Tak ada yang tahu tentang ini, biar sajalah

Diantara sejuta pasang mata melihatku…
Aku ini, mampu berdiri sendiri, kuat, tegar
Padahal, nonsense!
Aku tak seperti itu!

Karya : Yan Yuliani
_ November 2010



Ia

Ia tak mengerti dirinya sendiri
Ia tak memahami sebuah arti
Ia tak bisa melihat apa yang disaksikannya
Ia tak bisa menerjemahkan  ini semua

Yang Ia berbuat hanyalah diam
Menenggelamkan semua kekesalan dalam bathin

Karya : Yan Yuliani
_ Juni 2010
Untuk : Bathinku.



Setengah Diriku Pergi
Setengah diriku pergi
Mencari untuk kembali
Apa yang kucari?
Aku pun tak tahu

Limbung silih berganti
Keresahan kian beradu
Di tepian kegundahan hati

Tak ada elokan mentari
Hanyalah kegelapan rasa menyelimuti hati
Dan awan pekat menjadi saksi

Bukan hancur…
Bukan pula pedih
Atau pun terhianati
Aku hanya sedang mencari jati diri
Yang bersembunyi di balik tebing

Karya : Yan Yuliani
_ Mei 2010



GEMURUH

Tanganku tak mau berhenti bergerak
Menari-nari di atas secarik kertas
Percuma, percuma ke tuliskn semuanya
Semuanya tak ada arti

Gemuruh bathin,
Rasanya tak seimbang apa yang kulakukan

Sahutan angin bagaikan godaan iblis
Tak ingin didengarkan
Melainkan, biar di abaikan saja
Tetap, sahutan angin itu menyergapku,
Menusukku, menohokku hingga ke ulu hati
Aku gemuruh di buatnya
Gemuruh…gemuruh dalam bathin
Mendorongku melakukan di luar penalaran

Aku mencerna sahutan angin itu lamat-lamat
Kenapa aku harus mengikuti sahutan angin?
Ini jelas bukan kehendak bathinku

Kurebahkan tubuh ini ke bantalan awan
Kupejamkan mata sesaat
Namun, hanya ada gemuruh lagi…gemuruh lagi…!
Sekarang apa yang harus di lakukan olehku?

Karya : Yan Yuliani
_ Mei 2010



Sama seperti kau pikirkan

Niat tulus tersimpan dalam relung
Didengar hanya Tuhan
Kuingin dirinya juga tahu
Sayang, mulutku memilih bungkam

Andai seraut wajah menghampiriku
Lalu menanyakan apa yang kurasa
Pastilah aku bernyanyi tentang niatku

Tak perlu dia tahu niatan ini
Tak cukup untuk di utarakan
Aku butuh melakukan
tapi diriku rapuh
Tolonglah….

Bukan dia,
Cukup seraut wajah dan Tuhan mendengarku
Hanya mereka

Karya : Yan Yuliani
_ April 2010


 
Tenggelam

Debur ombak seolah mengiring kepedihanku
Tenggelam dalam lautan pikiran
Benih butir cemas tak bisa disingkirkan,
Tak dapat pula dihindarkan

Seluruh badan diam
Langkah pun menjadi tertatih-tatih
Bahkan suaraku seakan tercekat
Aku tenggelam lagi

Tangan gemetar tak bisa di gerakkan
Melihatnya, butiran air menetes
Berharap akan ada penyegeran
Jika tidak,
Aku kembali tenggelam

Kegelisahan kadang datang mendera
Ketenangan tak kunjung datang
Bila begini,
Yang datang hanya tenggelam

Karya : Yan Yuliani
_ April 2010




Wanita Tercantikku

Teringat senyummu dalam benak,
Wanita Tercantikku

Sulit tuk pejamkan mata
Tiap kali ada bayang semu dirimu
Tak luput menuangkan senyum indah padaku
Senyum yang hanya di berikan untukku
Oh…aku semakin rindu

Wanita Tercantikku,
Izinkan aku bersamamu
Jangan menolak!
Ini hasratku, mengertilah!

Aku bosan menginjakkan kakiku di tanah lembab
Namun tak berjumpa denganmu
Sungguh, aku jenuh selalu menaburkan bunga untukmu
Namun tak pernah ada jawab

Kau harus tahu, Wanita Tercantikku
Bahwa ingin rasanya aku menemani
Ke tampat peristirahatanmu
Tanah lembab yang tengah ku injak ini
Agar aku bisa melepas semua rindu

Karya : Yan Yuliani
_ April 2010
Ungkapan dari hati seorang cowok.


 
Terselip Rindu

Rasa salah menyelinap di hati kecil
Tak pernah kuucap dalam mulut
Tetap merasa acuh

Sering kali, aku mengatakan tak sesungguhnya
Bahwa aku, rindu
haruskah kuutarakan?
Tidak, egoku lebih berkuasa di dalam diriku

Tuhan, aku ingin Dia tahu
Teteskanlah embun penyejuk padanya
Beri tahu dia
Sampaikan rinduku padanya
Hanya sebatas rindu, tak perlu lebih

Aku menunggu dia bicara
“Hai…bicaralah!”
Karya : Yan Yuliani
- April 2010
Untuk seseorang yang telah menyakitiku di bulan April, Good Bye….




INI

Tahukah INI?
Kepuasan yang ingin terwujud
Terselimut ego
Tak ingin berpaling dari sisi manapun
Apakah INI?

INI,
Semua orang memiliki,
Begitu kau yang telah menghinaku
Tapi kau tak tahu apa-apa
Dan kau tak pernah mengerti tentang INI
Sedikit pun

Jika kau mengerti betapa aku memiliki INI
Pastilah kau diam membisu

Tahukah teriakan dan tangisan INI?
Dapatkah terdengar ke seluruh dunia hingga menembus surga?
INI,
Tumpukan kedua telapak tangan ke dada
Ku rasakan INI tersakiti
Haruskah selalu INI?
Sang hati?
Karya : Yan Yuliani
_ 26 April 2010

Jumat, 24 Desember 2010

Kristal Band - Sejenak


lagu ini mengingatkanku pada PENGERAN KODOK.

KRISTAL- Sejenak

Sejujurnya kuakui memang kumasih sayang pada dirimu
Walau engkau kini telah berdua, takkan pernah memudar cinta di dalam hatiku
Terus bersemi selamanya.
Bila kita tak bersama, namun bayangmu tersimpan dalam jiwa
Bersemayam dan selalu kujaga, cintamu tak pernah mati bersandar di hati ini,
Selamanya kan abadi.

* MALAM INI KAU PUN HADIR DI DAlAM MIMPIKU
JELAS KUlIHAT INDAH SENYUMMU
MESKI DIRIKU TERLELAP, TERPEJAM MATAKU INI
SAAT INI KAU SEAKAN TEMANI TIDURKU
HABISKAN WAKTU MALAM DENGANMU
SEJENAK KITA LUPAKAN DIRINYA YANG KINI JADI KEKASIHMU

Dan memang cinta sejati, terpancar dari tulusnya hati ini
WALAU CINTA TAK HARUS MEMILIKI
BIAR HANYA KUNIKMATI DIRIMU DI DALAM MIMPI
Tiada pernah kusesali

* repeat

Cinta yang terpendam di dalam hatiku tak kan hiang selama hidupku.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Cerpen Acne

ACNE
            Hampir satu jam Careline mematut diri di cermin hanya untuk memandang dirinya sendiri. Ada sesuatu yang harus ia banggakan begitu melihat penampilan fisiknya, dari mulai bentuk betis yang indah, bentuk pinggang yang menarik, kulitnya kuning langsat, rambutnya pun panjang tergerai mempesona, dan tubuhnya pula tinggi semampai. Sungguh sempurna. Namun begitu melihat ke raut wajahnya, alamak…. Ia langsung meringis. Rasa bangga karena merasa sempurna kini sirna saat memandang wajahnya itu, wajah yang di penuhi jerawat. Ia tidak habis pikir kenapa wajahnya dipenuhi oleh bintik-bintik menonjol di atas kulit cerahnya itu, padahal menurutnya …ini tidak masuk akal. Masa jerawat tumbuh di kulit yang bersih? Pikir Careline.
Inilah satu kepahitan yang harus ia terima. Sejenak ia condongkan wajahnya ke cermin, melihat lebih seksama. Dan ia baru menyadari bahwa tidak hanya jerawat tetapi juga ada sedikit noda hitam.
“Huugh!” Careline menumpahkan kelesuannya dalam sekali hembusan napas.
“Careline…!!” suara sang Mama membahana di penjuru ruangan.
“Iya, Ma! Careline ada di kamar! Tunggu sebentar, Ma!” seru Careline tiba-tiba mendadak terburu-buru merapihkan seragam putih abu-abu yang di kenakannya, dan ia bergegas mengambil tas oversize coklat, lalu meninggalkan ruangan kamar.
            Di ruangan makan, ia duduk di antara kedua orang tuanya untuk menyantap hidangan sarapan pagi ini. Belum ia menyantapnya, ia sudah merasa mual melihat semua hidangan di meja. Tampak ia tak berselera, hidangan itu lagi…itu lagi, sayur asem yang di campur dengan beberapa kacang di dalamnya, ada ayam goring pula, lalu minumnya susu. Tak ada perubahan, banyak terkandung lemak, tentu saja.. Bagaimana bisa menghilangkan jerawat kalau begini caranya, pikirnya.
            Tak lama berselang, Careline sudah berada di ruang kelas sepuluh menit yang lalu. Ia duduk paling terbelakang di pojokan kanan. Tepat di samping kirinya, ada teman sebangkunya yang bernama Ikta. Mereka tengah sibuk menghafalkan rumus matematika, memusatkan diri pada buku mereka masing-masing.
Sedang asyik menghafalkan rumus, tak sengaja ekor mata Careline menangkap sesuatu di tepak pensil Ikta. Sebuah pembersih wajah. Melihat demikian, Careline menghembuskan napas berat. Ia menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai pembersih wajah, polesan bedak pun tak menyertai di wajahnya itu. Perlahan tangannya merogoh tepak pensil miliknya sendiri. Lalu di ambilkannya sebuah cermin kecil, dan mulailah ia bercermin. Terlihat jelas wajah penuh jerawat itu, lagi-lagi ia meringis di buatnya. Ia tersadar akan kelalaian atas tidak sepenuhnya serius dalam membersihkan wajahnya itu.
Berarti muka gue belum tergolong bersih. Bathinya.
Seketika ia terheran mengapa ia sampai berjerawat seperti ini. Apa karena kurang serius membersihkan wajah seperti kesadarannya tadi? Ataukah memang ini takdirnya harus berjerawat? Ataukah memang harus memakai kosmetik?  Entahlah! Ia tak tahu. Namun bila menyinggung kosmetik, ia tidak ingin memakai kosmetik lagi. Untuk saat ini, sebab ia pernah mempunyai kosmetik dan tidak jarang untuk menggunakannya ke wajah.
Seiring berjalannya waktu, justru wajahnya semakin tidak karuan, menyebabkan lebih banyak jerawat saja. Mungkin karena kurang cocok dengan kosmetiknya. Mungkin. Dan sejak saat itu, ia tidak ingin memakai kosmetik lagi untuk beberapa tahun ke depan. Setelah menemukan kosmetik yang cocok nanti, barulah ia akan mencoba memakai kosmetik kembali. Namun ia tidak janji.
            Telapak tangannya yang mulus perlahan-lahan meraba pipinya yang penuh dengan benjolan kecil berwarna merah dadu. Ingin rasanya, ia menyingkirkan itu semua dalam sekejap. Jika sudah merasa mengeluh akan hal ini, ia menjadi teringat sesuatu, sesuatu yang tidak ia sukai yang membuatnya tersinggung, yaitu di perolok masalah jerawat oleh teman-teman sekelasnya. Karena teman-temannya selalu memperoloknya ‘si muka kue rempeyek’. Sadis benar …olokannya itu. Ia pun harus menelan satu kepahitan kembali, habis…mau bagaimana lagi?
Namun entah datangnya darimana, bagai di sambar petir saja! Ia menjadi bersemangat. Sambil bercermin yang di lakukannya sedari tadi itu, ia lekas menegakkan tubuhnya sedikit, lalu ia bergumam, “Lebih baik jerawatan dari pada panuan!”
Ikta yang duduk di sebelahnya sembari manghafal rumus itu tersentak. Namun ia memakluminya, pura-pura tidak mendengar saja.
            Tidak lama, suara bel masuk terdengar di telinga. Kini saatnya memasuki ke pelajaran pertama. Dan di kelas X.2, kelas dimana Careline tempati sedang di adakannya ulangan matematika di jam pertamanya itu.
Hingga memasuki jam kedua, belum usai ulangan matematika di kelas X.2 tersebut.
“Dua menit lagi!” seru Bu Inah selaku guru matematika yang sedari tadi berdiri di depan papan tulis. Bu Inah, guru yang di takuti oleh semua siswa di salah satu sekolah menengah atas kota Cirebon. Karena ketegasan beliaulah membuat mereka kalang kabut jika sedang ulangan seperti saat ini.
Tak ada yang mengelak satu pun dari mereka untuk menyontek, termasuk Careline. Menoleh sedikit saja langsung di pelototin, mereka sadar hal itu. Untuk menyelamatkan diri dari waktu ulangan matematika yang terlaknat, maka mereka harus pintar-pintar mencari jawaban, entah dari mana! Syukur-syukur dari otak sendiri.
“Satu menit lagi!” seru Bu Inah sekali lagi sambil melipatkan kedua tangan di perut.
Suara Bu Inah yang sering kali membahana di ruang kelas membuat mereka semakin takut, sama halnya yang di rasakan oleh Careline. Ia tak bisa menyontek. Mengandalkan otaknya, hanya beberapa soal saja yang bisa ia kerjakan, itu pun belum tentu benar.
“Banyak banget yang belum gue isi!” sahutnya dalam hati.
Karena terhimpit oleh desakan waktu tidak mungkin menunggu wangsit, tidak mungkin pula mengandalkan otak, atau tetekbengek lain sejenisnya, hanya satu yang mungkin ialah jerawat. Jerawatlah yang harus bertindak. Ia tersadar ada yang dapat di manfaatkannya. Mulailah ia beraksi.
            “A-B-C-D-E-A…B” Careline menghitung jerawat yang ada di kening, lalu seiring berakhirnya jerawat di kening itu, tentu sebuah penentuan untuk menjawab satu soal, “C,” lanjut Careline, jari telunjuknya berhenti menari di kening.
Kemudian di tulisannya huruf tersebut ke nomor 17 yang belum sempat terisi.
            “Nomor berapa lagi, ya? 20, 21, 24, 30.” Ia berdesis. Gegas ia menghitung jerawat di pipi kiri dan pipi kanan untuk menjawab nomor 20 dan 21. begitu juga dengan nomor 24, ia pun melancarkan aksinya kembali untuk menghitung jerawat, kali ini di daerah dagu. Namun, saat pengisian nomor 30 yang menjadi tempat sasarannya adalah di daerah hidung, di situlah ia mulai kesulitan. Pasalnya, di daerah hidung tidak ada jerawat melainkan komedo. Mana mungkin bisa di hitung? Maka dari itu ia akan mencoba mengisinya dengan menggunakan otaknya saja.
Sekian detik, sudah berulang kali ia coba memakai berbagai rumus, namun tak ada jawabannya. Terpaksa jerawat lagi yang akan bertindak. Dengan sigapnya ia menghitung semua jerawat yang ada di wajah.
Anehnya, Bu Inah tak menyadari apa yang di lakukan oleh Careline. Wajar, karena Careline mnghitung jerawat sangat hati-hati namun cepat. Alhasil, Bu Inah pun mengira Careline sedang pusing melihat soal.
            “A.” suara Careline bernada sangat pelan. Lalu ia menuliskannya ke jawaban nomor 30. dan bersegeralah ia mengumpulkan hasil kerjaannya itu ke meja guru.
Akhirnya ia bisa bernapas lega, serta membiarkan berbagai kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di hasilnya. Yang jelas, ia telah selesai mengerjakan ulangan hari ini.
Dari pada menghitung kancing. Bathin Careline.
*
            Sepulang sekolah, Careline tak pernah lupa untuk mengikuti latihan baris berbaris. Maklum saja, di ekskul paskibranya itu sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan perlombaan paskibra se-kota Cirebon yang akan di selenggarakan minggu depan.
Sebenarnya, jauh dari lubuk hati Careline ingin sekali keluar dari ekskulnya itu. Namun apa daya, sang pembina Paskibra memberikannya sebuah jabatan sebagai sekretaris, membuat ia harus bertanggung jawab saja. Dan mau tidak mau, ia mengurungkan niat untuk keluar dari paskibra.
Di minggu-minggu ini, ia sangat di sibukan dengan latihan baris berbaris yang membosankan. Maklum saja, satu minggu menjelang pelombaan paskibra, ia dan teman-temannya harus berekstra keras latihan. Jika tidak, kemungkinan terburuk akan menimpa mereka.
Setelah beberapa kali membentuk barisan dan formasi. Kini saatnya mereka beristirahat sejenak. Pohon rindang di pinggir lapangan sangat cocok untuk di jadikan tempat istirahat mereka sembari duduk berselonjor.
“Ih..! gue janji, kalau perlombaan nanti selesai, gue bakal keluar dari ekskul ini!” tandas Nina salah satu dari mereka.
“Kenapa?” tanya Ikta yang kebetulan satu ekskul pula dengan Careline.
“Loe gak ngerasain, apa?? Latihan baris-berbaris yang terus-menerus, udah gitu cuacanya panas banget, dahaga, bikin keringat di badan berkucuran.”
“Tapi kan, bikin kita sehat? Berkeringat itu bagus, lho! Apalagi kalau di daerah wajah kita selalu berkeringat, itu bisa menghilangkan jerawat.” terang Ikta panjang lebar.
Mendengar pernyataan Ikta barusan, Careline yang tengah meneguk air minum hampir tersendak di buatnya. Ia merasa seperti ada angin segar di dalam dirinya.
            “Masa?” tanya Careline.
            “Ya, bener…kalau loe gak percaya buktiin aja! Gue baca info itu dari majalah, lho!”
Careline sedikit resah. ‘Buktikan saja’ katanya? Lalu selama ini yang di lakukannya berhari-hari demi latihan yang menguras keringat ke seluruh badan termasuk wajah itu, apa bukan namanya bukti? Sudah termsuk bukti, bukan? Namun tetap saja jerawat bersemanyam di wajah, pikir Careline.
            “O…pantesan…ketiak kita gak pernah jerawatan, berkeringat melulu….!” cela Nina menyeletuk.
Mereka pun sedikit terhibur olehnya. Tetapi tidak dengan Careline, ia malah terdiam. Ia merasa Nina memperoloknya, walaupun kenyataan tidak demikian. Entahlah! Ia tersinggung saja.
Di antara temannya hanya wajah Carelinelah yang berjerawat.
*
            Seminggu kemudian. Letih, lulai, capek, sangat di rasakan betul oleh Careline seusai melakukan kewajibannya mengikuti lomba paskibra beberapa jam lalu. Kini ia pun dengan santainya merebahkan tubuh ke tempat tidur di kamarnya sendiri. Tuntas sudah tugas terberatnya, dan apa yang ia kerjakan bersama teman-temannya itu sangat setimbang dengan hasil yang mereka peroleh. Karena mereka mendapatkan juara harapan di perlombaan pakibra se-kota Cirebon tersebut. Meskipun, hanya juara harapan, tidak masalah bagi mereka.
Dan dari situlah,  temannya yang bernama Nina ingin terus melanjutkan perjuangannya di ekskul paskibranya itu, begitu pula dengan Careline. Ia akan tetap berada di ekskul paskibra, ingin membuktikan pula bahwa keringat dapat mengilangkan jerawat yang pernah di katakan oleh Ikta. Mungkin dengan terus berekskul paskibra yang selalu menguras keringat, jerawatnya akan hilang perlahan-lahan, lenyap oleh keringat.
Sesaat kemudian, Careline mengulurkan tangan ke samping untuk mengambil cemin berbentuk bulat yang tergeletak di atas bantal. Ia pun mulai bercermin. Terlihat wajahnya sangat kusam, beberapa hari belakangan ini wajahnya memang semakin kusam, dan semakin kusam.
            “Ga pa-pa! kan, jadi juara harapan? Mau kusam atau gak? Yang penting, gak panuan!” seru Careline dalam hati.
Selama ini, ia tetap berpegang pada prinsip, ‘lebih baik jerawatan, daripada panuan’ itu.
Tak berselang lama, hanya beberapa detik saja, dirinya baru menyadari akan sesuatu hal. Mataya kian membelalak, menatap tajam wajahnya di cermin.
            “Hah???” ia mendesah hingga spontan tubuhnya terperanjat bangun.
Tidak percaya apa yang lihat tadi, maka ia berlari menuju ke meja rias, melihat wajahnya lekat-lekat di situ.
            “Argh…!!! Gak Cuma kusam, jerawat, komedo, atau noda hitam saja yang bersemanyam di muka gue ini!! Tetapi juga, panu…!!! Sejak kapan ada di muka gue….Arghh!!” teriak Careline histeris melihat wajahnya demikian, Careline resah. Haruskah ia keluar dari ekskulnya? Ataukah memulai kembali berkosmetik?
Menurutmu?
***
(Juni 2010)
Di muat pada tanggal 21 Agustus 2010, Kabar Cirebon.

Jumat, 09 Juli 2010

cerpen 'nasehat kakak'


Nasehat kakak

            Debur ombak selalu kudengar tiap hari, wajar rumahku kan dekat dengan laut? Ayahku saja seorang nelayan. Ya…pastinya aku juga seorang anak nelayan, tetapi ayahku tak pernah menyuruhku untuk menjadi seorang nelayan. Beliau selalu menasehatiku bahwa aku harus lebih baik dari beliau, setidaknya tidak menjadi nelayan, tentu. Entah apa yang menjadi alasannya! Aku tidak tahu. Yang jelas aku akan menurut, dan kewajibanku sekarang adalah hanyalah belajar, serta membantu ibu di pasar pelelangan ikan untuk menjual hasil tangkapan ayah, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.
            Bagiku, mendengar debur ombak seperti nyanyian seorang diva yang membangkitkan semangat bagi pendengarnya. Tidak percaya? Nikmati saja.
Dan aku merasa kurang puas apabila mendengar debur ombak hanya dari rumah saja. Maka dari itu, setiap pulang sekolah aku selalu mengunjungi dermaga. Seperti saat ini, aku pun ke sana yang masih mengenakan seragam putih merah.
Tepat di ujung dermaga sana, ada sesosok wanita berjilbab yang tengah duduk sendirian.  Wajahku kian menuangkan senyum padanya. Lantas langkahku mendekati, dan begitu ada di sampingnya, gegas aku cepat-cepat duduk.
            “Sudah lama duduk di sini, kak Virna?” tanyaku mengawali. Tertoleh wajah yang kusayangi itu ke arahku.
            “Ndak juga, dek Dino,” jawabnya. “Kamu tahu, kenapa kakak duduk di sini?”lanjutnya menanyakan.
Jawabanku hanya menggeleng kepala sekuat-kuatnya.
            “Karena kakak ingin menanyakan sesuatu sama kamu.”
            “Apa itu?”
            “Dengarkan baik-baik, ya!” seru kak Virna. lalu ia melanjutkan, “Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi pemalas?”
            “Masa? Aku selalu bantuin ibu tiap pagi. Aku nggak malas kan, kalau begitu?”
            “Bukan. Maksud kakak, kenapa kamu jadi pemalas di sekolahmu?” tukas kak Virna bernada pelan.
            Mendengar ucapannya itu, segera aku menurunkan pandangan ke laut. Aku rasa pekataan kak Virna memang benar, akhir-akhir ini aku malas belajar, PR pun jarang kukerjakan, sampai-sampai nilai ulangan jadi hancur-hancuran. Seketika aku terkejut, tahu-tahu tangan hangat kak Virna sedang mengusap kepalaku. Sejak kapan? Pasti mukaku masam di lihatnya sampai ia harus melakukan itu padaku.
            “Kamu ini bocah kecil yang masih duduk di kelas 4 SD. Harus rajin belajar,” kata kak Virna.
Aku tetap menunduk terpekur.
            “Tataplah ke depan yang berada jauh darimu, Dino.”
Suara kak Virna kali ini membuatku menurut. Gegas aku mendongak, melepaskan pandanganku lurus ke depan, dan menegakkan dadaku sedikit.
            “Lalu, apa lagi yang harus Dino lakukan, kak?”
Tampak telapak tangan kak Virna menutupi mulutnya untuk menahan tawa.
            “Bukan itu,” sahutnya.
            “Lantas apa?” aku meringis sambil menoleh ke wajah yang selalu kurindukan itu.
            “Raih cita-citamu, tataplah itu!”
            “Tapi, kak?”
            “Kakak tahu ....kamu sedang ada beban di pikiranmu itu. Makanya, kamu jadi malas belajar.”
            “Habis….mau gimana lagi….Dino nggak bisa kosentrasi belajar kalau ada masalah tentang keuangan sekolah.”
            “Itukah yang menjadi beban pikiranmu?”
            “Ya,” jawabku. “Kakak, ibu belum ngasih uang untuk beli buku lks, sppku juga menunggak.” imbuhku bernada lirih.
            “Lho…bukannya sekolah dasar itu gartis? Terbebas dari uang apa pun?”
            “Kata siapa? Buktinya, masih bayar ini-itu.”
Tangan kak Virna kembali membelai rambutku.
            “Ya, sudahlah. kamu ndak usah memikirkan hal itu. Biar bapak dan ibu saja yang menanganinya. Kamu tetap belajar.”
            “Tapi, kak?”
            “Coba kamu bayangkan! Jika kamu rajin belajar, lalu kamu itu menjadi peringkat pertama di kelas. Kemudian jaddilah kamu orang yang pintar? Enak, kan? Nah, dari rajin belajarmu itu, pasti akan mendatangkan rejeki, yaitu beasiswa. Bisakah membayangkan seperti itu?” bijak kak Virna panjang lebar,      “Beasiswa bisa meringankan beban bapak dan ibu bahkan meraka merasa bahagia mempunyai anak seperti itu.” Lanjutnya.
            “Benarkah?”
            “Betul itu. Jadi rajin belajar, ya! Ingat, jangan mengharapkan sesuatu. Karena beasiswa itu datang dengan sendirinya. Ok.”
Tiba-tiba aku merasa bersemangat di buatnya.
            Ok!” seruku terperanjat bangun, “Kak, aku pulang dulu, ya…mau belajar!”
            “Hati-hati. Ingat, doakan bapak dn ibu supaya mereka tetap mendapatkan rejeki untuk membiayai sekolahmu, ya!”
            “Siip…”
Sebelum sesaat aku melangkahkan kaki, ada yang ingin kuucapkan pada kak Virna terlebih dahulu.
            “Kak Virna, terima kasih. Mau pulang bersama?”
            “Matahari belum terbenam, Dino?”
            Ok, Dino duluan ya, kak!” sahutku melengos.
            “Senyum, dong?”
Gegas aku berbalik badan, kemudian secepat kilat kuberikan saja senyuman yang mengembang untuk kak Virna. Lantas aku pun beranjak. Berlalulah aku darinya.
*
            Sesampainya di rumah, terlihat ayah dan ibuku sedang menggelar tikar di ruang tamu.
            “Asalamualaikum…” sahutku menghampiri sambil menyalami mereka.
Mereka pun reflek menyambut salamku, “Walaikumsalam…”
            “Habis kemana saja kamu, Dino? Pulang sekolah bukannya langsung ke rumah, malah main.” Kata ibu.
            “Bapak sama ibu mengkhwatirkanmu,” sambung ayah.
Aku menundukkan kepala, menghormati mereka saat berbicara.
            “Ya, sudah.… sekarang kamu cepat sana mandi! Nanti bantu bapak dan ibu di sini.” Ibu menyergah dengan pelan.
            “Ibu, tunggu dulu.” Potong ayah. “Lebih baik, kita membiarkan si Dino untuk belajar telebih dahulu seusai mandi nanti.” Lanjutnya.
            “Ya, sudah terserah bapak saja.” Timpal ibu. Lalu beliau menatapku sambil berkata, “Dino, cepat mandi, lalu belajar. Kalau sempat ada waktu bantu-bantu bapak sama ibu di sini, ya?”
            “Baik, bu. Dino pasti selesai belajarnya saat menjelang adzan magrib tiba.”
            “Cepat sekali. Ini saja sudah memasuki ashar. Dino, jangan terburu-buru kalau sedang belajar.” Tukas ayah.
            “Nggak kok, Pak? Cuma, Dino kepengen cepat-cepat membantu bapak sama ibu di sini. Kan habis magrib ada acara tahlilan di rumah ini?”
Tampak ayah dan ibu terkesiap mendengar ucapanku barusan.
            “Kami kira, kamu lupa, nak?” kompak mereka.
            “Nggak dong, pak, bu? Masa acara tahlil istimewa, lupa? Ini kan hari ke seratus sepeninggal kak Virna.” Sahutku seraya beranjak menuju kamar mandi.
            “Kamu pasti rindu, ya?!” seru Ayah tersiur-siur hingga ke telingaku.
Rindu…, tentu saja. Malahan setiap hari. Dan mereka tak pernah tahu bahwa sebenarnya aku selalu bertemu dengan kak Virna di ujung dermaga. Tatkala pula memberikan nasihat berharga jika aku sedang di landa masalah.
***
 Karya : Yan Yuliani
di muat pada tanggal 5 juni 2010, Kabar Cirebon.